Touring to Brunei Darussalam

Pergi keluar negeri merupakan salah satu impian saya hingga dulu. Tidak peduli tujuannya apa, asalkan itu baik pasti sangat berkesan bagi saya. Hari ini (Kamis, 8 Maret 2012) adalah hari bersejarah bagi saya.  Hadiah  untuk pergi ke negara Brunei Darussalam yang diberikan oleh ISID kepada saya sungguh tidak ternilai.

Rasa senang selalu mengiringi perjalanan kami. Ada hal yang unik pada perjalanan kali ini. Kami berangkat bersama 10 orang mahasiswa yang masing-masing belum pernah keluar negeri. Takut dan cemas sempat kami pikirkan, tapi dengan modal mental yang kuat ala Gontor kami berangkat bersama.

Banyak pelajaran dari perjalanan kami. Penerbangan yang saat itu dijadwalkan pukul 17.55 sempat mundur 5 menit. Puji syukur penerbangan dengan Air Asia  melalui bandara di Solo bisa berjalan mulus. Ternyata keterlambatan 5 menit tidak berdampak apa-apa bagi kami. Alhamdulillah.

Dasarnya memang belum ada yang naik pesawat keluar negeri. Kami 10 orang agak hawatir ketika pesawat mulai naik dengan ketinggian 1800. Kepala pusing pun sempat kami rasakan. Karena takut dikatakan “katrok” akhirnya pusing itu pun kami tahan sekuat mungkin. Alhamdulillah tidak ada yang muntah.

Hal unik lainnya, ada salah satu dari teman yang tiba-tiba melepas sabuk pengamannya untuk pergi buang air kecil. Saya pun bertanya-tanya. Tapi sekali lagi untuk menyembunyikan rasa hawatir tersebut terpaksa saya diam tanpa komentar. Meskipun sudah saya ingatkan secara personal tetap saja respon dari salah satu teman ini kurang baik.

Tapi itulah pengalaman. Pengalaman yang belum tentu bisa dirasakan oleh orang lain. Dari sini saya akhirnya sadar bahwa pengalaman itu memang mahal harganya. Jika boleh saya ibaratkan mahalnya hampir seimbang dengan harga kesehatan.

Kami tiba di Bandara Kuala Lumpur pukul 21.45 waktu Malaysia. Awalnya sempat bingung, saya kira itu waktu Indonesia. Saya sadar setelah pramugari bilang bahwa waktu malaysia menunjukkan pukul 21.45. Luar biasa, pengalaman baru lagi saya dapatkan.

Setelah landing pesawat kami pun bergegas mencari barang kami yang tadinya kami letakkan di bagasi pesawat. Setelah pengecekan paspor di bandara, kami pun mencari dimana koper-koper kami diletakkan. Karena memang baru awal dan masih awam masalah penerbangan, ada dari teman-teman yang berlarian mengejar koper yang berputar di atas role. Lucu sekaligus gelisah mulai timbul. Tapi lagi-lagi saya sadar bahwa itu adalah bagian dari pengalaman baru.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 waktu Malaysia, kami pun bersegera mencari mushola dan rumah makan. Rumah makan di bandara menjadi tujuan utama kami. Karena makanan yang dihidangkan bermacam-macam harganya, masakan padang dengan ciri khas warna hijau menunjukkan harga yang lumayan cukup murah yaitu RM 5. Tanpa berpikir panjang kami pun memesan makanan dengan lauk ayam serta telor. Begitu pula dengan yang lainnya. Tidak lupa secangkir kopi hangat turut menyertai makan malam kami di bandara.

Untuk melepas rasa penat selama perjalanan obrolan ringan setelah makan pun kami lakukan. Banyak cerita yang dapat dibagi, meskipun obrolan tersebut tidak jauh-jauh dari masalah di ISID. Apa lagi kalau bukan masalah SERDOS (Sertifikasi Dosen). Karena ada teman yang sebelumnya kerja lembur untuk menyelesaikan berkas dosen akhirnya hal itu pun tidak luput dari pembicaraan.

Indah jika dikenang, meskipun kadang kesal ketika melakukannya. Tapi itulah warna-warni keikhlasan.

Perjalanan kami belum selesai sampai disitu. Tujuan utama kami adalah Brunei Darussalam. Sambil menunggu penerbangan dari bandara Kuala Lumpur ke Brunei Darussalam pada esok pagi pukul 06.45 waktu Malaysia sebagian dari kami istirahat dan sebagian lagi harus rela mengorbankan waktunya untuk begadang. Yaa sambil menikmati indahnya suasana bandara Kuala Lumpur tidak apalah, saya pun turut begadang bersama yang lain.

Insyaallah besok chek in pukul 05.00 pagi, oleh karena itulah kami begadang dengan harapan tidak ketinggalan pesawat Lion Air.

Bersambung …..

About the Author:

One Comment

  1. saifudin

    he he he…. kok ceritanya baru sampai kuala lumpur, saya cari yg sampai di brunei, kok nggak ada sambungannya. Di brunei berapa hari, pulangnya kapan, kegiatan di sana, nggak ada semua. he he he….Kalau ada fotonya jadi tambah bagus.