Tauhid Dalam Prinsip Bahasa Arab

A.  Al-Tauhid

Tauhid ialah konsep tertinggi dalam Islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ismail Raji al-Faruqi bahwa tauhid adalah pengakuan bahwa Allah SWT adalah Tuhan semesta alam. Ini berarti bahwa Allah SWT adalah sumber hakiki semua kebaikan, semua nilai. Apa yang kita ketahui dengan indra adalah benar sifatnya. Kecuali jika indra kita jelas cacat atau sakit, apa yang tampak sesuai dengan akal sehat adalah benar kecuali jika terbukti sebaliknya.[1]

Tauhid adalah kesatuan Tuhan dalam teologi muslim.[2] Tauhid merupakan pandangan umum tentang realitas, kebenaran, dunia, ruang dan waktu, sejarah manusia dan takdir.[3] Sudah dapat dipastikan bahwa esensi peradaban Islam adalah Islam itu sendiri dan esensi Islam adalah tauhid atau pengesahan Tuhan.[4] Sebagai prinsip metodologi dalam esensi tauhid, toleransi adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak meninggalkan suatu bangsa tanpa mengirimkan pada mereka seorang utusan dari kalangan mereka sendiri untuk mengajarkan kepada mereka bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah SWT dan bahwa mereka wajib menyembah dan mengabdi kepada_Nya.[5] Untuk memperingatkan mereka terhadap kejahatan dan penyebab-penyebabnya. Dalam hal ini, toleransi adalah kepastian bahwa semua manusia telah dikaruniai dengan suatu “sensus communis” (naluri keberagamaan) yang memungkinkan mereka untuk mengetahui agama yang benar, untuk mengenali kehendak Tuhan dan perintah_Nya.

Ismail Raji al-Faruqi menegaskan bahwa konsep tauhid adalah landasan metodologi dalam Islam. Sebagai prinsip metodologi, tauhid terdiri dari tiga prinsip.[6] Pertama, penolakan terhadap segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan realitas. Artinya, prinsip ini membuka segala sesuatu dalam agama untuk diselidiki dan dikritik. Namun, apabila hasil penyelidikan itu menyimpang dari realitas, maka penyimpangan itu cukup untuk membatalkan kritikan tersebut. Kedua, penolakan kontradiksi-kontradiksi hakiki. Prinsip ini merupakan esensi dari prinsip pertama. Kontradiksi (pertentangan) antara wahyu dan akal misalnya, jika hal ini terjadi maka Islam tidak membiarkannya begitu saja. Tapi, Islam telah memberikan petunjuk dengan al-Qur’an untuk menyelesaikan pertentangan tersebut. Ketiga, keterbukaan bagi bukti yang baru dan/atau yang bertentangan. Prinsip ini bermaksud untuk menjadikan tauhid sebagai kesatuan kebenaran yaitu keterbukaan terhadap bukti baru dan/atau yang bertentangan untuk melindungi umat Islam.

B.  Prinsip Bahasa Arab

Ketauhidan Allah SWT dapat kita lihat dari analisa kalimat tauhid (?? ??? ??? ????) tersusun dari dua kalimat (?? ???) yang dikenal dengan “kalimat penafian” dan (??? ????) yang dikenal dengan “kalimat istbat (penetapan)”. Kedua kalimat tersebut (penapian) dan (penetapan) dikenal dengan dua rukun kalimat tauhid, dan itulah hakekat tauhid. Dan (???) dalam bahasa arab artinya (?????) “yang disembah”.[7] Maksudnya : kalimat penafian (?? ???) menafikan seluruh peribadatan kepada selain Allah, dan (??? ????) menetapan bahwa peribadatan yang hak dan benar semata-mata hanya kepada Allah. Maka makna dari (?? ??? ??? ????) yaitu (?? ????? ??? ??? ????) “tiada yang berhak disembah secara benar kecuali Allah”.

Kenapa dalam maknanya harus ditambah kalimat (yang benar/hak) karena seluruh peribadatan kepada selain Allah adalah batil dan ilah yang disembah secara benar adalah Allah Ta’ala, sebagaimana firman Allah Ta’ala: (Artinya) “(Kuasa Allah) Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Haqq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru/ibadati selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (Al-Hajj:62)

Salah satu tokoh yang fokus dalam hal kebahasaan ialah Raja Ali Haji. Beliau seorang tokoh bahasa asal Melayu/Indonesia. Salah satu pemikiran beliau ialah bahwa terdapat hubungan yang erat antara bahasa, akal dengan pengakuan adanya Allah SWT. Saat ini pelajaran bahasa cenderung bersifat sekuler. Yakni, seperti yang diungkapkan Gorrys Keraf, bahasa berfungsi sebagai alat untuk mengekspresikan diri, alat untuk berkomunikasi, alat untuk integrasi atau adaptasi sosial dan alat untuk melakukan kontrol sosial semata.[8]

Karena itu, para ulama kita betul-betul memikirkan tentang penggunaan kata. Misalnya, ketika para ahli pendidikan Islam dulu meluncurkan kata ’murid’. Mereka berharap bahwa anak-anak yang disebut murid itu mempunyai cita-cita, mempunyai kehendak menjadi lebih baik dan seterusnya. Sebab “murid” berasal dari kata Arab araada-yuriidu-muriidan. Sayangnya kini kata itu pelan-pelan dihapuskan dan digantikan dengan kata siswa. Entah siapa yang memulai, tapi kemungkinan diambil dari kata Taman Siswa Ki Hadjar Dewantoro, tokoh pendidikan Indonesia yang pernah lama belajar di Belanda.

Begitu juga dulu para ulama memperkenalkan bahasa Melayu/Indonesia dengan tulisan Arab Melayu atau Arab Jawi. Mereka berharap agar masyarakat terbiasa dengan huruf al- Qur`an. Tapi pelan-pelan huruf Arab ini pun dihapuskan dan diganti dengan huruf Latin. Sehingga tidak banyak sekarang para pelajar yang mempunyai kemampuan menulis atau membaca huruf Arab Melayu. Padahal, banyak karya ulama atau intelektual kita dulu tertulis dalam bahasa Arab Melayu. Para pelajar pun banyak yang diputus pelajarannya dari karya-karya ulama dulu, diganti dengan buku-buku masa kini yang kebanyakan ’menjiplak dari pakar-pakar Barat’. Pelajaran bahasa kini kebanyakan ’otak atik kata dan fakta’ dan kering dari nasehat. Sulit bagi kita menemukan lagi pakar bahasa yang nasihatnya sangat berharga dan mendalam seperti Raja Ali Haji.

Selain kata murid, tentu masih banyak lagi bahasa Melayu/Indonesia yang menyerap dari bahasa Arab. Di antaranya ada yang lafal dan artinya masih sesuai dengan aslinya. Dan ada juga yang lafalnya  berubah tapi artinya tetap. Adapun contoh kata dari lafal dan arti yang masih sesuai dengan aslinya yaitu : Abad, Abadi, Abah, Abdi, Adat, Adil, Amal, Aljabar, Almanak, Awal, Akhir, Azan, Bakhil, Baligh, Batil, Barakah, Daftar, Hikayat, Hikmah, Halal, Haram, Hakim, Haji, Ilmu, Insan, Khas, Khianat, Khidmat, Khitan, Kiamat, Kitab, Kuliah, Kursi, Kertas, Lafaz, Musyawarah, Markas, Mistar, Malaikat, Mahkamah, Musibah, Mungkar, Maut, Nisbah, Nafas, Syariat, Shalat, Ulama, Wajib, Ziarah.

Adapun contoh dari kata-kata yang lafalnya berubah tapi artinya tetap yaitu Berkah, Barakat, Atau Berkat dari kata Barakah, Buya dari kata Abuya, Derajat dari kata Darajah, Kabar dari kata Khabar, Lafal dari kata Lafazh, Lalim dari kata Zhalim, Makalah dari kata Maqalatun, Masalah dari kata Mas’alatun, Mungkin dari kata Mumkinun, Resmi dari kata Rasmiyyun, Soal dari kata Suaalun, Rezeki dari kata Rizq, Sekarat dari kata Zakaratil.

Dengan demikian, pada dasarnya, kata-kata dalam bahasa Arab sangat sarat akan nilai-nilai ketauhidan. Artinya, kebanyakan kosa kata bahasa Arab menunjuk kepada Allah SWT sebagai Sang Maha segalanya. Misal, kata Berkat yang berasal dari kata Barakah. Hakekatnya kata tersebut menunjuk kepada Sang Maha Pemberi keberkahan yaitu Allah SWT. Kata Barakah juga terikat dengan makna rizq yang mana kata tersebut juga menunjuk kepada Sang Maha pemberi Rezeki yaitu Allah SWT. Akan tetapi, dalam perkembangan bahasa Indonesia/Melayu justru telah menyempitkan makna dari bahasa tersebut. Kata Barakah berubah menjadi Berkat yang –kadangkala- diartikan dengan makanan. Kata Rezeki hanya diartikan sebagai harta, dll. semua kata-kata yang mengalami perubahan makna tersebut justru telah menyempitkan makna sebenarnya. Dan model penyempitan makna seperti inilah yang lebih dekat pada paham sekuler atau anti Tuhan. Karena unsure-unsur ketuhanan tidak lagi dilibatkan dalam berbahasa.

Untuk itu, perlu kiranya umat muslim menganalisa kembali kata-kata atau kalimat yang digunakan dalam kesehariannya. Dan akan lebih baik apabila menambah perbendaharaan kosa kata bahasa Arab melalui Qamus atau Mu’jam. Ini berguna untuk mengetahui akar kata serta makna sebenarnya dari suatu kata dalam bahasa Arab. Dengan harapan mampu membawa pemikiran berbahasa kepada ketauhidan dan penyembahan Allah SWT. Wallahu a’lam

 


[1] Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid, Bandung : Pustaka, 1988, p.47.

[2] Vergilius Ferm, An Encyclopedia Of Religion, Ney York: The Philosophical Library, 1945, p. 762.

[3] Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid … p. 9.

[4] Ibid., p.16.

[5] Ibid., p. 48-49.

[6] Ibid., p. 45-47.

[7] http://alhujjah.com/index.php/component/content/article/19-makalah-ilmiah/67-makna-dan-hakekat-qlaa-ilaha-illa-allahq-

[8] http://majalah.hidayatullah.com/?p=3722

About the Author:

One Comment