Sadar Ilmu : Buah Belajar al-Qur’an

Saat ini genap 23 tahun lamanya saya belajar al-Qur’an. Sebuah kitab suci umat islam yang merupakan kumpulan kalam ilahi (Allah SWT) ini sengaja diturunkan melalui nabi_Nya yang terakhir yaitu Muhammad SAW. Bukan untuk pejengan dan bukan pula untuk menakut-nakuti umat islam. Tetapi al-Qur’an turun untuk dijadikan pedoman dalam hidup di dunia untuk kehidupan yang lebih kekal di akhirat kelak.


Mengenai hal ini, saya teringat satu pesan singkat dari almarhumah ibunda saya yang bernama Sutiyami. Seorang figur ibu rumah tangga yang tegar dalam menghadapi manis pahitnya kehidupan. Sebelum beliau wafat, ia pernah berujar, “Jangan pernah bosan belajar al-Qur’an”. Kalimat yang terdiri dari lima kata itu masih teringat hingga saya dewasa sekarang. Tidak jarang ketika saya membuka al-Qur’an untuk mempelajarinya, saya teringat akan pesan ibu itu.

Berangkat dari pesan singkat itulah saya mulai sadar sedikit demi sedikit akan pentingnya belajar al-Qur’an. Memang manfaatnya tidak saya rasakan ketika sedang mempelajarinya. Akan tetapi saya banyak tahu akan ilmu-ilmu Allah setelah mempelajarinya.

Saya teringat masa kecil dulu. Setiap sore dan malam hari saya “dipaksa” untuk berangkat ke surau. Meskipun tidak jarang saya menggerutu kesal, tapi itulah masa kecil, yang masih belum tahu akan pentingnya belajar al-Qur’an.

Bukan hanya membaca layaknya membaca buku. Waktu kecil, saya pun “dipaksa” untuk menghafalkan kaidah-kaidah tajwid. Saya sering disalahkan pak kyai karena lidah kecil saya yang seringkali terpeleset salah mengucapkan suatu huruf. Tapi itulah masa kecil yang penuh cerita dan keceriaan. Sampai-sampai keceriaan itu selalu terbawa di saat kegiatan mengaji sedang berlangsung.

Dulu, semua ini berjalan apa adanya. Tidak ada protes apalagi berontak. Memang dasarnya anak kecil yang belum bisa menimbang mana yang baik dan buruk. Tapi, semua itu menjadi kenangan indah. Bahkan, bukan hanya kenangan biasa. Mungkin itulah wujud kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Untuk mengungkapkan rasa kasih sayangnya itulah saya disuruh mengaji, belajar tajwid dan lain-lain.

Alhamdulillah, semua paksaan itu kini bisa saya rasakan buah positifnya. Berkat belajar al-Qur’an dan cara membacanya, keinginan saya untuk terus belajar semakin tumbuh. Saya pun semakin terarah untuk mempelajari al-Qur’an dari berbagai segi. Baik segi tartilnya, sampai-sampai kaidah kebahasaan al-Qur’an pun saya pelajari.

Memang, al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk manusia. Di dalamnya terdapat jutaan ilmu, baik yang sudah diketahui oleh manusia mau pun yang belum. Al-Qur’an tidak hanya membahas masalah Aqidah. Syariah, Ilmu ekonomi, sosial, ilmu bahasa, bahkan matematika dan biologi pun dijelaskan secara gamblang di dalamnya.

Saya baru sadar akan hal itu ketika saya belajar di salah satu pondok di Lamongan, al-Ishlah namanya. Ketika masa SMA saya mengambil jurusan IPA. Berharap supaya mendapatkan banyak pengetahuan tentang biologi (materi favorit kala itu). Waktu itu ada satu pembahasan yang membuat saya tersadarkan akan hakekat penciptaan manusia.

Ada guru saya menerangkan mengenai penciptaan manusia. Di sela-sela pembelajaran beliau menyisipkan Surat al-Mukminun ayat 12-15 sebagai landasan ajarannya tersebut. Hal yang mengejutkan bagi saya yaitu ternyata manusia yang dikatakan sebagai makhluk paling sempurna di bumi ternyata terbuat dari air mani yang hina.

Saya sempat tersentak dan berpikir sejenak, jika memang benar terbuat dari air mani, lantas kenapa manusia banyak yang congkak, sombong dan lebih-lebih mengingkari ketuhanan Allah SWT. Padahal al-Qur’an jelas-jelas menerangkan bahwa semua makhluk di dunia ini diciptakan hanya untuk beribadah kepada_Nya.

Peristiwa tersebut masih teringat dalam memori otak saya sampai saat ini. Dari situlah perjalanan kesadaran saya dimulai. Karena sadar bahwa saya hanyalah makhluk yang akan mati. Maka sejak itu saya bertekad ingin mempelajari lebih mendalam lagi kandungan-kandungan al-Qur’an.

Untuk memahami itu semua saya memerlukan sarana untuk dapat mengerti ayat demi ayat al-Qur’an. Al-Qur’an diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab. Bahasa Arab dari kabilah Quraisy sengaja dipilih oleh Allah sebagai bahasa al-Qur’an sebab bahasa tersebut memiliki keindahan-keindahan bahasa tersendiri yang tidak dimiliki bahasa lainnya. Untuk itulah saya melanjutkan studi sarjana saya di jurusan Bahasa Arab di salah satu Perguruan Tinggi di Ponorogo (ISID Gontor).

Sebenarnya kecintaan saya dengan bahasa Arab tidak di mulai di bangku kuliah. Sedari awal, ketika saya masih di pondok (masa SMP-SMA) saya sudah belajar banyak tentang bahasa Arab. Dan inilah yang pada akhirnya memudahkan saya mempelajari kaidah-kaidah bahasa Arab yang lebih mendalam.

Saya beranggapan, dengan belajar bahasa Arab saya akan tahu akan makna-makna yang tersurat dalam setiap ayat. Tapi, lagi-lagi saya tersadarkan dengan setiap ayat yang mana saya tahu maknanya, bukan hanya yang tersurat bahkan yang tersirat pun saya bisa memahami berkat mengerti bahasa Arab.

Dengan modal bahasa Arab itulah saya semakin sadar bahwa ilmu-ilmu yang saya miliki saat ini belumlah seberapa jika dibandingkan dengan luasnya ilmu yang terkandung dalam al-Qur’an. Ini merupakan tamparan keras bagi saya. Meskipun sudah sarjana bahasa Arab tapi akhirnya saya sadar bahwa semakin orang mengkaji ilmu Allah SWT maka ia akan semakin tahu bahwa manusia itu masih kecil dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan luasnya ilmu Allah SWT.

Maka, benar kata Allah SWT melalui surat al-Mujaadalah ayat 11. Dalam ayat tersebut Allah SWT berjanji akan meninggikan derajat umatnya yang selalu haus mencari ilmu. Sebab dengan semakin bertambahnya ilmu itulah manusia akan semakin tahu hakekat penciptaan alam semesta ini. Dan sesungguhnya antara orang yang berilmu itu jauh berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Dan akhirnya, saya sadar bahwa ilmu bisa membukakan mata hati kita akan kekuasaan Allah SWT yang Maha Sempurna.

About the Author: