The Center for Gender Studies

 Permasalahan gender tidak habis-habisnya dibahas dalam berbagai forum. Mulai dari forum ilmiah akademik hingga forum sosial-budaya semua mulai hoby berbicara gender. Jika hanya masalah gender dalam konteks makna secara harfiah (jenis kelamin) mungkin tidak terlalu banyak yang merisaukannya.

Akan tetapi kajian yang timbul saat ini sangat berbeda. Bedanya adalah ketika kata “gender” ditambahkan dengan kata “kesetaraan”. Walhasil, gabungan kata “kesetaraan” dan “gender” bukan lagi kata yang biasa. Bahkan ini sudah menjadi istilah yang mengandung ideologi tertentu.

Ideologi kesetaraan gender lebih lanjut menjadi doktrin sosial budaya. Doktrin ini “dianggap” sebagian orang tidak berbahaya. Memang, ini tidak berbahaya bagi mereka yang mengusung dogma tersebut. Masalahnya, dogma itu dipaksakan untuk menjadi patokan pluralnya suatu budaya bahkan agama.

Agama menjadi santapan lezat bagi dogma “kesetaraan gender”. Ini tentu tidak fair. Agama islam yang memiliki hak paten kebenaran dari Allah SWT dipaksa untuk merubah ideologinya dengan ideologi yang baru lahir. Secara rasional saja sudah tidak masuk. Bagaimana mungkin ideologi hasil adopsi dari Negara orientalis bisa disesuaikan dalam agama islam.

Permasalahan ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Mereka (aktifis feminis) semakin gencar menawarkan ideologi yang baru lahir itu melalui berbagai media. Mulai dari konser biasa sampai ke ranah pemerintahan (RUU KKG). Mereka pun “memaksa” pemerintah yang lemah agama (peraturannya) supaya setuju dengan ideologi tersebut.

Ini adalah tantangan bagi umat islam. Tantangan yang seharusnya kita sikapi dengan lebih cerdas. Dengan mengedepankan nilai-nilai keislaman, kita semua harus berusaha menangkal ideologi barat tersebut.

“The Center of Gender Studies”, salah satu organisasi yang baru ingin berdiri di depan membela agama islam dari bahayanya ideologi hasil adopsi itu. Organisasi tersebut terdiri dari beberapa anak muda muslim yang memiliki semangat berjuang demi islam. Dengan menjadikan dunia online sebagai sarana berdakwah mereka memilih situs http://thisisgender.com sebagai wadah berekspresi.

Uniknya, “The Center of Gender Studies” atau yang lebih akrab disapa dengan CGS ini menjadikan islam sebagai worldview (cara pandang) mereka dalam mengkaji masalah gender. Hal ini untuk mengimbangi situs-situs musuh islam yang berbicara gender dengan worldview barat. Sebab, tidak sedikit situs-situs yang berbicara tentang gender dengan perspektif  barat bahkan berani terang-terangan menggugat islam dalam hal kesetaraan gender. Inilah yang berbahaya dan membahayakan umat islam.

Mungkin bisa dibilang bahwa “The Center of Gender Studies” adalah satu-satunya situs yang berbicara gender dari sudut pandang islam.“Kedepannya nanti, mudah-mudahan “The Center of Gender Studies” dapat dijadikan rujukan utama dalam studi gender perspektif islam”.

Ada satu keunikan lain dari organisasi tersebut. Semua artikel yang disajikan dalam web bukanlah tulisan-tulisan yang ringan. “The Center of Gender Studies” lebih mengutamakan tulisan-tulisan ilmiah yang ditulis oleh para pakar di bidang masing-masing. Sebut saja Ust. Henry Shalahuddin selaku pimpinan redaksi CGS, beliau sangat mengapresiasi karya anak-anak muda tersebut sehingga tidak keberatan menulis dan membimbing para redaktur CGS, meskipun masih baru.

Melihat CGS dengan berbagai keunikannya maka saya secara pribadi mengajak semua teman-teman untuk memberikan dukungan kepada saudara-saudara kita yang berjuang mempertahankan nilai-nilai syariat islam melalui CGS. Jika bukan umat islam sendiri yang mendukung gerakan ini lantas siapa lagi yang akan berdiri menghadapi bahayanya arus liberalisasi.

Akhirnya, besar harapan kami organisasi “The Center of Gender Studies” bisa tetap eksis hingga mampu menangkal serangan-serangan musuh islam. Aamin.

About the Author: