Nov
13
2011

Pentingnya Sebuah Perencanaan

Pagi ini saya merasakan kejengkelan sang sangat amat. Pasalnya, kondisi fisik dan pikiran lagi-lagi tidak bisa bekerja sama dengan rapi. Setiap kali ingin santai sejenak sambil merasakan hangatnya teh di pagi hari bersama kawan pasti ada saja hutang tugas yang harus segera diselesaikan.

Tugas yang remeh justru sering terlupakan, karena saya terbiasa mendahulukan pekerjaan yang lebih berat sehingga pekerjaan ringan pun tertindih. Namun, pekerjaan yang mulai terlupakan tersebut kadang teringat di sela-sela waktu santai sehingga mau tidak mau harus dikejar dan segera diselesaikan waktu itu juga.

Itulah sekelumit kegalauan jiwa yang saat ini saya rasakan. Kegalauan tidak lain seperti halnya perasaan cinta, bangga, kesal, senang, jengkel atau sejenisnya. Acap kali perasaan seperti ini mengganggu aktifitas sehari-hari yang tadinya sudah dijadwal dengan rapi. Jadwal kegiatan yang seharusnya dilakukan sesuai perencanaan terpaksa harus disisihkan waktunya (meskipun sedikit) untuk melakukan aktifitas lainnya yang belum sempat dikerjakan.

Perencanaan memang wajib untuk dilakukan. Kegiatan sekecil apapun tetap harus dimasukkan dalam jadwal. Hal ini mengantisipasi apabila sewaktu-waktu ada kepentingan lainnya (di luar jadwal) kita masih tetap bisa mengerjakan tugas atau aktifitas yang akan kita lakukan namun sempat tertunda sebelumnya.

Tapi, perencanaan bukanlah dikte yang mana kita harus selalu “leterleg” dengan apa yang kita rencanakan. Tidak seperti itu, perencanaan hanya sebagai pengingat agar kita lebih bisa fokus dalam menjalani kehidupan ini. Tidak ada salahnya jika kita melenceng dari perencanaan tersebut sebab hal yang belum terencanakan belum tentu jelek untuk dikerjakan.

Tidak ada peraturan yang mengikat dalam membuat perencanaan, kecuali jika kita hidup dalam dunia perkantoran. Sebenarnya, di kantor pun kita sedang hidup dalam perencanaan si bos. Disadari atau tidak atasan kita sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar, baik untuk kemajuan perusahaannya atau untuk dirinya sendiri.

Kita dilibatkan dalam perencanaan si bos berarti kita hidup dalam perencanaan dan dunianya. Lantas, jika kita telah hidup di dunia orang lain kenapa kita tidak membuat dunia kita sendiri?. Mungkin kondisi seperti ini tidaklah sama antara satu orang dengan lainnya, tapi kondisi yang seperti inilah yang harus dibiasakan sejak awal untuk mendapatkan hasil makimal.

Ibarat hidup di dunia lain yang mana kita tidak bisa merencanakan sesuatu karena kurangnya kepahaman kita akan dunia lain tersebut. Jangan pernah menjadi orang asing di negeri sendiri. Keadaan layaknya orang asing inilah yang seringkali mempengaruhi kita untuk tidak merencanakan segala aktifitas kita.

Entah karena kita sudah merasa hafal betul dengan segala aktifitas yang akan kita lakukan sehari-hari atau mungkin karena kita malas untuk merencanakan aktifitas tersebut. Karena tidak ada perencanaan akhirnya fakum setelah melakukan aktifitas pertama dan kedua, selanjutnya bingung mau lakuin apa dan akhirnya merasa asing dengan apa yang ia rasakan, ujung-ujungnya kita tidak melakukan apa-apa karena sudah terlanjur terasing dalam satu kondisi.

Soo…. jangan jadi orang asing di dunia ini, rencanakan segala sesuatu yang akan kita lakukan baik jangka pendek maupun panjang.

 

Related Posts

About the Author: mohammad ismail

Comments are closed.