Minimnya Tradisi Membaca Dan Menulis

Tanggal 09-14 Maret 2012 adalah hari yang bersejarah dalam perjalanan hidup saya. Saat itu saya mendapatkan hadiah istimewa yang tidak dapat terhitung jumlahnya. Hadiahnya bukanlah berbentuk barang yang dibungkus dengan kertas kado. Tapi, hadiah tersebut adalah berupa kesempatan untuk mengunjungi negeri Brunei Darussalam.

Kesempatan tersebut bukan untuk jalan-jalan menghabiskan waktu. Ada undangan khusus dari salah satu kampus di Brunei Darussalam. Universiti Islam Sulthan Sharif Ali atau yang lebih akrab dipanggil UNISSA inilah yang mengirimkan surat undangan ke pihak rektorat ISID.

Undangan tersebut berisikan ajakan untuk menghadiri seminar yang diadakan oleh fakultas Syariah kampus UNISSA. Setelah mempersiapkan segala hal yang diperlukan ternyata terpintas sebuah informasi bahwa yang diutus ke sana bukan hanya sebagai pendengar akan tetapi harus ada perwakilan yang menyumbangkan artikel guna dipresentasikan dalam acara tersebut.

Karena pengiringnya hanya dua orang staff (saya dan awaluddin) akhirnya ust. Hamid selaku pembimbing di kampus pun mempersilahkan saya untuk membuat makalah. Temanya memang tidak tepat jika disandingkan dengan jurusan yang saya ambil. Tema seminar tersebut yaitu”Institusi Keluarga: Menghadapi Dampak Dunia Maya”. Tapi, dengan modal semangat menulis dan membaca akhirnya kesempatan itu pun saya ambil.

Awalnya saya sangat grogi dan cemas sebab ini adalah presentasi saya yang pertama kali di negeri orang. Akan tetapi kecemasan itu segera saya hilangkan dengan strategi khas saya yaitu dengan memelototi pendengar satu per satu. Trik ini sangat teruji mampu menghilangkan rasa grogi ketika presentasi. Dan setelah pemateri pertama dan kedua selesai giliran saya pun tiba.

Ternyata benar, presentasi di luar atau di dalam negeri itu sama saja. Jika sudah terbiasa presentasi, di mana saja tempatnya maka akan bisa menguasai situasi. Akhirnya, presentasi pun selesai dengan apresiasi yang luar biasa.

Akan tetapi ada hal yang sangat disayangkan pada kesempatan itu. Minimnya budaya diskusi di kalangan mahasiswa ternyata sangat mencolok dan tidak ada bedanya dengan yang di dalam negeri sendiri. Hal ini terbukti ketika selesai presentasi hanya ada tiga penanya saja. Memang, penanya bukanlah ukuran dari baik buruknya presentasi. Akan tetapi keinginan untuk mengetahui yang lebih dalam mengenai suatu ilmu itulah yang menjadi tolak ukur budaya ilmu.

Ilmu tidak dapat berkembang jika bukan ilmuwan yang mengembangkannya. Dalam proses pengembangan ilmu itulah terjadi diskusi-diskusi ringan hingga pematahan argumen yang lemah. Dengan hal tersebut maka akan terbentuklah tradisi ilmu yang baik. Tapi, jika tradisi diskusi ilmu sudah tidak ada, bisa dimungkinkan ilmu pada tahun-tahun selanjutnya pun akan lemah nilainya.

Ilmu bukan hanya didapatkan di dalam kelas. Dalam kesempatan apapun bisa menjadi tempat bertukarnya ilmu pengetahuan. Kuncinya terletak pada membaca dan menulis. Dalam hal ini pepatah benar, “Membaca Adalah Jendela Dunia”. Dengan membaca kita bisa tahu segala hal termasuk hal-hal yang buruk sekali pun. Tapi jika tradisi membaca dan menulis sudah menjadi menu wajib para mahasiswa bisa dipastikan ilmu yang dikembangkan pun akan lebih berkualitas.

Tulisan ini bukan untuk mengkritik sebagian kalangan saja. Melalui tulisan inilah saya memotivasi diri saya sendiri untuk lebih tekun dalam membaca dan menulis. Akan tetapi, saya akan lebih bahagia lagi apabila pembaca tulisan ini pun ikut termotivasi dan sadar akan pentingnya membaca dan menulis.

 

About the Author:

One Comment