Makna Toleransi Barat

Istilah “Tolerance”[1] (toleransi) adalah istilah modern, baik dari segi nama maupun kandungannya. [2] Istilah ini pertama kali lahir di Barat, di bawah situasi dan kondisi politis, sosial dan budayanya yang khas. Toleransi berasal dari bahasa Latin, yaitu “tolerantia”, yang artinya kelonggaran, kelembutan hati, keringanan dan kesabaran. Dari sini dapat dipahami bahwa toleransi merupakan sikap untuk memberikan hak sepenuhnya kepada orang lain agar menyampaikan pendapatnya, sekalipun pendapatnya salah dan berbeda.[3] Secara etimologis, istilah tersebut juga dikenal dengan sangat baik di dataran Eropa, terutama pada revolusi Perancis. Hal itu sangat terkait dengan slogan kebebasan, persamaan dan persaudaraan yang menjadi inti revolusi di Perancis.[4] Ketiga istilah tersebut mempunyai kedekatan etimologis dengan istilah toleransi. Secara umum, istilah tersebut mengacu pada sikap terbuka, lapang dada, sukarela dan kelembutan. Kevin Osborn mengatakan bahwa toleransi adalah salah satu pondasi terpenting dalam demokrasi.[5] Sebab, demokrasi hanya bisa berjalan ketika seseorang mampu menahan pendapatnya dan kemudian menerima pendapat orang lain.

Adapun menurut Harun Nasution, toleransi meliputi lima hal sebagai berikut : [6] Pertama, Mencoba melihat kebenaran yang ada di luar agama lain. Ini berarti, kebenaran dalam hal keyakinan ada di dalam agama-agama. Hal ini justru akan membawa umat beragama ke dalam jurang relativisme kebenaran. Sebab, kepercayaan bahwa kebenaran tidak hanya ada dalam satu agama berarti merelatifkan keberadaan Tuhan yang absolut. Argumen seperti ini sebenarnya tidak baru. Hal yang sama telah lama digagas juga oleh John Hick dalam bukunya A Christian Theology of Religions: The Rainbow of Faiths.[7] Kedua, Memperkecil perbedaan yang ada di antara agama-agama. Ketiga, Menonjolkan persamaan-persamaan yang ada dalam agama-agama. Bagi penulis, poin kedua dan ketiga ini bermasalah. Dengan adanya perbedaan inilah yang justru akan membedakan antara satu keyakinan dan keyakinan lainnya. Teori evolusi Darwin misalnya, ia yakin bahwa manusia berasal dari monyet setelah melihat banyaknya persamaan antara manusia dan kera. Akan tetapi, Darwin lupa bahwa manusia juga memiliki perbedaan mendasar yang tidak dimiliki monyet. Manusia memiliki akal sedangkan monyet tidak. Inilah yang meruntuhkan teori evolusi. Jika kera dan manusia saja bisa dibedakan, bagaimana dengan agama?.

Keempat, Memupuk rasa persaudaraan se-Tuhan. Dalam hal ini, Harun Nasution terpengaruh dengan John L. Esposito yang menganggap bahwa yang ada adalah “Islams” bukan Islam saja.[8] Harun juga terjebak dalam teori Schuon tentang The Transenden Unity of God. Ia menganggap bahwa esensi Tuhan dari agama-agama adalah satu. Sedangkan perbedaan keyakinan pada tataran eksoterik adalah merupakan interpretasi manusia terhadap “The One”. Pandangan seperti ini tentu tidak sejalan dengan aqidah Islam. Tuhan umat Islam bukanlah Tuhan “The One/The Real” akan tetapi Allah SWT. Kelima, Menjauhi praktik serang-menyerang antar agama. Tampaknya, ketika berpendapat seperti ini Harun melihat sejarah kelam sekte-sekte agama Kristen. Sebab, dalam sejarah, Islam tidak pernah menyerang agama-agama lain terlebih dulu. Hal ini dapat ditelusuri dalam sejarah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan Khulafa’ ar-Rasyidin. Di mana agama-agama (Yahudi dan Kristen) mendapatkan perlindungan penuh tanpa pembantaian.

Selain Harun Nasution, Zuhairi Misrawi juga berpendapat dalam bukunya al-Qur’an Kitab Toleransi dengan mengatakan bahwa toleransi harus menjadi bagian terpenting dalam lingkup intraagama dan antaragama.[9] Lebih lanjut, ia berasumsi bahwa toleransi adalah upaya dalam memahami agama-agama lain karena tidak bisa dipungkiri bahwa agama-agama tersebut juga mempunyai ajaran yang sama tentang toleransi, cinta kasih dan kedamaian.[10] Selain itu, Zuhairi memiliki kesimpulan bahwa toleransi adalah mutlak dilakukan oleh siapa saja yang mengaku beriman, berakal dan mempunyai hati nurani. Selanjutnya, paradigma toleransi harus dibumikan dengan melibatkan kalangan agamawan, terutama dalam membangun toleransi antar agama.

Dari paparan di atas dapat kita pahami bahwa istilah toleransi dalam perspektif Barat adalah sikap menahan perasaan tanpa aksi protes apapun, baik dalam hal yang benar maupun salah. Bahkan, ruang lingkup toleransi di Barat pun tidak terbatas. Termasuk toleransi dalam hal berkeyakinan. Ini menunjukkan bahwa penggunaan terminologi toleransi di Barat sarat akan nafas pluralisme agama. Yang mana paham ini berusaha untuk melebur semua keyakinan antar umat beragama. Tidak ada lagi pengakuan yang paling benar sendiri dan yang lain salah. Akhirnya, semua pemeluk agama wajib meyakini bahwa kebenaran ada dalam agama-agama lainnya, sehingga beragama tidak ada bedanya dengan berpakaian yang bisa berganti setiap hari. Inilah pluralisme yang berkedok toleransi perspektif Barat.

Dalam The Golier Webster Int. Dictionary of The English Language dijelaskan bahwa konsep “pluralisme”[11] dapat dipahami dalam dua makna,[12] pertama, adanya pengakuan terhadap kualitas majemuk atau toleransi terhadap kemajemukan[13]. Artinya, toleransi yang dimaksud adalah di mana masing-masing agama, ras, suku dan kepercayaan berpegang pada prinsip masing-masing dan menghormati prinsip dan kepercayaan orang lain. Kedua, pluralisme berupa doktrin, yakni: a). pengakuan terhadap kemajemukan prinsip tertinggi, b) dalam masalah kebenaran, tidak ada jalan untuk mengatakan hanya ada satu kebenaran tunggal tentang suatu masalah, c) berisi ancaman bahwa tidak ada pendapat yang benar, atau semua pendapat itu sama benarnya, d) teori yang sejalan dengan relativisme dan sikap curiga terhadap kebenaran (truth), e) dan terakhir, pandangan bahwa di sana tidak ada pendapat yang benar atau semua pendapat adalah sama benarnya (no view is true, or that all view are equally true).

Dari pengertian di atas, dapat diketahui bahwa pluralisme sebenarnya ingin mengajarkan kebenaran itu tidak ada. Sebab semua kebenaran adalah relative. Dengan dalih toleransi inilah paham pluralisme ingin menghilangkan konsep kebenaran agama-agama. Tentu paham ini sangat berbahaya bagi Islam. Sebab, ketika kebenaran dalam Islam adalah relative, maka konsep keTuhanan Allah SWT (tauhid) pun tidak lagi absolute. Untuk itu, dalam bab selanjutnya penulis ingin menelurusi konsep toleransi dalam Islam dengan tujuan untuk menggali kembali nilai-nilai yang sempat dikaburkan oleh peradaban Barat, khususnya dalam hal toleransi beragama.

________________________________
[1] Istilah toleransi memiliki sejarah tersendiri. Pada tahun 1948, PBB Majelis Umum mengadopsi Pasal 18 dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, yang menyatakan: “Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama, hak ini termasuk kebebasan berganti agama atau kepercayaan, dan kebebasan, baik sendiri atau dalam komunitas dengan orang lain dan dalam praktek umum atau pribadi, untuk memanifestasikan agama atau kepercayaan dalam pengajaran, ibadah dan ketaatan”. Meskipun tidak secara resmi mengikat secara hukum, deklarasi tersebut telah diadopsi banyak konstitusi nasional sejak 1948. Hal ini juga berfungsi sebagai landasan untuk semakin banyak perjanjian internasional dan hukum nasional dan lembaga internasional, regional, nasional dan sub-nasional untuk melindungi dan mempromosikan hak asasi manusia termasuk kebebasan beragama. Berbeda dengan sebelumnya, pada tahun 1965, Gereja Katolik Roma Vatikan II Konsili mengeluarkan dekrit Dignitatis Humanae[1] (Kebebasan Beragama) yang menyatakan bahwa semua orang harus memiliki hak untuk kebebasan beragama.

[2] Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama, Jakarta : Perspektif, 2005, p. 212.

[3] Zuhairi Misrawi, Al-Qur’an Kitab Toleransi, Jakarta : Pustaka Oasis, 2007, p.161.

[4] Ibid.

[5] Kevin Osborn, Tolerance, New York : 1993, p.11.

[6] Dyayadi, M.T., Kamus Lengkap Islamologi, Yogyakarta : Qiyas, 2009, p.614.

[7] John Hick, A Christian Theology Of Religions: The Rainbow Of Faiths, America : SCM, 1995, p.23.

[8] John L. Esposito, Terj. Arif Maftuhin, Islam : The Straight Path, Jakarta : PT. Dian Rakyat (Paramadina), 2010, p.299.

[9] Zuhairi Misrawi, Al-Qur’an Kitab Toleransi, … p.159.

[10] Ibid., p.159.

[11] Secara etimologis, pluralisme agama berasal dari dua kata yaitu “pluralisme” dan “agama”. Dalam bahasa arab diterjemahkan dengan “al-ta’addudiyyah al-diniyyah” dan dalam bahasa Inggris dikenal “religious pluralism” yang artinya adalah koeksistensinya berbagai kelompok atau keyakinan di satu waktu dengan tetap terpeliharanya perbedaan dan karakteristik masing-masing. (lihat Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme … p. 11-12).

[12] The Golier Webster Int. Dictionary Of The English Language … (Lihat juga dalam Oxford Advanced Lear ners’ Dictionary of Current English dan Oxford Dictionary of Philosophy).

[13] Mengenai hal ini L. Eck berkomentar bahwa pluralisme tidak sekedar toleransi, melainkan proses pencarian pemahaman secara aktif menembus batas-batas perbedaan (active seeking of understanding across lines of difference). Berbeda dengan Adam Seligman, sosiolog dari Boston University yang secara teoritis tidak membedakan konsep toleransi dan pluralisme. (lihat : Abd. Moqsith Ghazali, Merayakan Kebebasan Beragama: Bunga Rampai Menyambut 70 Tahun Djohan Effendi, Jakarta :ICRP, 2009, p.183-184)

About the Author: