Kunjungan ke Brunei Darussalam (4)

Hari Ahad (11/03/2012)

Hari ini adalah hari libur nasional. Begitulah kiranya kondisi di Brunei pada hari Ahad. Hari Ahad semua aktivitas perkantoran libur dan kebanyakan masyarakat Brunei menghabiskan waktu tersebut dengan makan-makan diluar rumah bersama keluarga. Selain itu, aktivitas memancing juga sering dilakukan kebanyakan orang disana. Tidak terkecuali orang Indonesia yang sedang mengadu nasib di negara Brunei.

Mengawali hari libur di Brunei, setelah shalat subuh kami gunakan waktu untuk berjalan-jalan mendaki gunung. Niatnya bukan naik gunung, hanya ingin mengisi waktu pagi dengan olah raga santai. Tapi, tanpa disangka bahwa pembimbing kami (ust. Fanani) terus berjalan ke tempat yang lebih tinggi. Pendakian saat itu tidak terkesan tebing gunung. Tapi setelah beberapa kilometer ke atas, tanjakan semakin ganas. Jaraknya pun luar biasa jauh. Ada sebagian teman yang hampir pingsan karena tidak kuat. Tapi akhirnya dengan sedikit paksaan kami sampai juga di suatu taman yang ada dibalik rerimbunan gunung tersebut.

Karena hari kampus-kampus libur, maka tidak ada acara resmi yang dapat kami lakukan. Untuk mengisi kekosongan kami pun tidak lantas diam tanpa kegiatan apapun. Hari ini kami punya rencana mengunjungi Kampung Ayer (Kampung Air), atau yang lebih terkenal dengan kampung air. Disebut kampung air sebab rumah-rumah di sana dibangun diatas sungai. Dengan menyewa perahu mesin (kapal taxi) kami mencoba menikmati pemandangan di kampung Ayer. Ketika tiba ditempat tujuan kami terkejut ternyata tidak hanya ratusan warga yang tinggal disana. Setelah tanya-tanya kepada pemandu, katanya kampung Ayer saat ini berjumlah lebih dari 3000 kepala rumah tangga. Sungguh jumlah yang luar biasa besarnya.

Menurut sejarah terbentuknya negara Brunei, awal mula penduduk Brunei membangun perumahan mereka di atas air. Dan konon Kampung Ayer itulah cikal bakal terbentuknya negara Brunei Darussalam. Untuk menjaga warisan sejarah inilah Sulthan berinisiatif memberikan kemakmuran bagi warganya yang bertempat tinggal di Kampung Ayer. Pantas saja, meskipun rumah mereka berada di atas air akan tetapi mayoritas rumahnya memiliki AC (Air Conditioner). Ini tentu tidak sebanding dengan kampung kumuh yang ada di Indonesia. Kami sangat terkagum-kagum dengan gaya pemerintahan Sulthan Hasanal Bolkiah.

Selepas mengelilingi Kampung Ayer kami melanjutkan jalan-jalan ke Bangunan Alat-Alat Kebesaran Diraja. Di tempat tersebutlah disimpan semua alat-alat Sulthan Hasanal Bolkiah. Mulai dari pedang, tongkat, cenderamata, lukisan, ornamen-ornamen, sampai gerobak kerajaan pun ditempatkan disana. Ada yang berbentuk miniatur dan ada pula yang asli peninggalan raja-raja Brunei Darussalam. Dari tempat itulah kami mencoba memahami sejarah kerajaan Brunei Darussalam. Pasalnya, semua alat-alatnya disusun rapi dan terawat. Penempatan alat-alat pun ditata sesuai dengan sejarah. Mulai dari yang tertua hingga yang paling baru, hasilnya para pengunjung dibuat seperti membaca sejarah Brunei Darussalam.

Ada satu sudut yang lagi-lagi membuat kami tercengang takjub. Ada sebuah miniatur kerajaan Sulthan Hasanal Bolkiah yang didalamnya terdapat 1500 kamar dan lebih dari 100.000 abdi sulthan. Kami juga melihat gambaran kesetiaan rakyat Brunei Darussalam terhadap rajanya. Hal ini terlihat ketika kami melihat sebuah video perayaan hari jadi sulthan yang diarak ke jalan-jalan besar dan tampat kedekatan raja kepada masyarakatnya. Ketika kami bertanya kepada teman-teman dari Brunei mengenai peran Sulthan Hasanal Bolkiah mereka berkata bahwa Sulthan merupakan sosok pemimpin yang bagus, cerdas, sopan, bijaksana dll. Ia tidak berpihak kepada kepentingan pribadinya. Ia lebih mengutamakan kesejahteraan rakyatnya sebelum memenuhi haknya. Ia juga tidak membeda-bedakan antara orang kaya dan kurang mampu. Sebagai bukti bentuk kebijaksanaan Sulthan Hasanal Bolkiah adalah taraf ekonomi rakyat Brunei yang bisa dibilang diatas sederhana. Dan ternyata kesantunan Sulthan tersebut dirasakan juga oleh warga asing yang bekerja disana (termasuk Indonesia).

Setelah puas melihat alat-alat kerajaan tiba saatnya shalat Dhuhur. Kami tidak berjamaah pada masjid yang sama saat itu. Kali ini kami shalat di Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien. Menurut sejarah yang kami dapatkan, Sultan Omar Ali Saifuddien adalah ayah dari Sultan Hasanal Bolkiah. Masjid ini dibangun ketika Sultan Omar Ali memimpin negara Brunei. Dengan beberapa renovasi, masjid ini pun menjadi lebih indah dari pada sebelumnya. Menurut kisah, awalnya masjid Omar Ali ini dulunya berada ditengah-tengah sungai. Dan semakin berkembangnya negara Brunei akhirnya dibangunlah jalan-jalan dan rumah-rumah di sekitar masjid tersebut. Masjid yang menyambung dengan patung kapal besar ini memiliki imam tetap. Dan ternyata bukan hanya disitu saja, hampir semua masjid di Brunei memiliki imam tetap yang berasal dari berbagai manca negara.

Ini adalah informasi berharga bagi kami. Sulthan Hasanal Bolkiah sengaja menunjuk imam, muadzin dan ta’mir masjid yang tetap dengan tujuan supaya ada yang memperhatikan masjid secara khusus termasuk meramaikannya dengan berbagai macam kegiatan. Pengurus masjid disana tidak kemudian dibiarkan begitu saja. Disamping mereka mendapatkan gaji dari pemerintah (sekitar 2800 Dolar Brunei), keluarga mereka pun tercukupi dengan santunan-santunan yang lainnya. Dengan demikian warga yang melestarikan masjid pun tidak luput dari perhatian sulthan. Inilah yang mungkin belum dilaksanakan oleh pemerintah di Indonesia.

Hari semakin siang, waktu makan siang pun tiba. Kami menyempatkan diri untuk bertemu dengan IKPM yang ada di Brunei Darussalam. Sebelum makan siang dimulai, terlebih dahulu kami adakan perkumpulan ringan bersama IKPM. Banyak hal yang dibicarakan saat itu, salah satunya yaitu informasi mengenai perkembangan IKPM yang ada di Brunei. Diantara mereka ada yang terjun di bidang pendidikan, bisnis bahkan pemerintahan. Katanya mereka lumayan susah untuk menjadi warga tetap di negara Brunei. Untuk menyikapi hal tersebut alumni Gontor terus berkarya di negara orang lain. Alumni Gontor yang ada disana kurang lebih berjumlah 20 orang. Dengan berbagai macam latarbelakangnya mereka saling bangun-membangun untuk mendakwahkan nilai-nilai Gontor di bumi Brunei Darussalam.

Saat kumpul itulah mereka berpesan kepada kami bahwa belajar di Gontor tidak ada ruginya. Bahkan jika disuruh memilih sekarang, mereka akan memilih kembali ke Gontor. Mereka baru merasakan dampak positif pendidikan dan nilai-nilai yang dulu diajarkan ketika santri. Karena mereka sadar akan hal itu akhirnya dengan ikatan kekeluargaan khas Gontor mereka saling membantu sesama alumninya. Bahkan sempat ada guyonan untuk membangun cabang Gontor di Brunei meskipun sangat sulit untuk merealisasikannya. Akan tetapi, itulah mimpi para alumni yang kami tangkap saat itu. Secara umum kami juga ikut bangga dapat bertemu dalam ikatan santri Gontor. Dari situ kami belajar bahwa penyesalan memang selalu di akhir. Tapi penyesalan bukan alasan untuk terus berkarya. Sebab penyesalan tersebut sejatinya adalah pelajaran yang harus dikembangkan lagi.

Alhamdulillah, hari libur di Brunei dapat kami manfaatkan dengan berbagai macam aktivitas yang positif. Kami juga telah mendapatkan pelajaran berharga dari jalan-jalan kami di hari libur. Hari semakin sore dan saatnya kami pamit dengan IKPM, sore hari adalah waktu istirahat kami karena mulai sore hingga malam warga Brunei sudah tidak ada lagi yang sibuk dengan aktivitas pekerjaannya, termasuk juga pertokoan yang sudah mulai tutup.

About the Author: