Kunjungan ke Brunei Darussalam (1)

Postingan kali ini merupakan rekaman perjalanan kami ke Brunei Darussalam dalam rangka Rihlah Tarbawiyyah (Studi). Tapi sebelumnya saya sampaikan beribu maaf karena baru bisa memuat perjalanan kami di Blog ini dikarenakan koneksi yang tidak bersahabat.

_________

RIHLAH TARBAWIYYAH ISID GONTOR KE UNISSA (BRUNEI DARUSSALAM)

Keberangkatan

Brunei Darussalam, negara yang terletak di kawasan Asia Tenggara ini memiliki  Luas wilayah: 5,765 kilometer persegi. Brunei Darussalam bisa dikatakan sangatlah kecil untuk ukuran suatu negara. Akan tetapi, kami belum tahu seluk beluk negara Brunei secara mendetail, oleh sebab itulah pergi ke Brunei tetap menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami yang belum pernah pergi ke luar negeri. Untuk itu, peserta berkomitmen untuk mencari informasi mengenai apa keistimewaan, bagaimana sistem pendidikannya, sistem pemerintahannya dan lain sebagainya. Dengan modal pertanyaan singkat itulah kami bertekad untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya di sana. Meskipun kami sadar bahwa pasti ada beberapa hal penting yang tidak akan bisa kami dapatkan nantinya. Akan tetapi itu bukanlah halangan yang berarti untuk tetap pergi ke negara Brunei.

Banyak hal yang harus kami persiapkan sebelum berangkat. Selain mempersiapkan materi-materi presentasi, kami juga mempersiapkan beberapa hal seperti souvenir dll. Bukan hanya persiapan yang bersifat fisik yang kami bereskan. Ada hal yang bersifat non fisik juga yang tidak bisa kami tinggalkan. Nasehat dari rektor ISID dan pembantunya adalah suplemen khusus yang akan kami jadikan modal serta ikatan ketika kami berangkat nanti. Untuk itu, kami berinisiatif untuk berkumpul bersama mereka guna mendapatkan gambaran mengenai Brunei Darussalam.

Selain berkumpul dengan as-Sayyid Hamid Fahmi Zarkasyi, as-Sayyid Amal Fathullah Zarkasyi, kami juga berkumpul dengan as-Sayyid Imam Subakir Ahmad. Banyak hal yang mereka sampaikan, banyak pula hal-hal yang harus kami perhatikan. Salah satu nasehat penting dari as-Sayyid Imam Subakir Ahmad yaitu :

”Pergi keluar negeri sekarang tidak sesulit dengan dulu. Dulu, jika ingin keluar negeri banyak hal yang menyulitkan sehingga keinginan keluar negeri akhirnya gagal atau terhambat. Untuk itu, sebelum keluar negeri harus ada tujuan yang pasti. Adapun tujuan kalian ke Brunei Darussalam nanti yaitu untuk mendapatkan masukan dari orang lain, termasuk dari perguruan tinggi yang ada di Brunei Darussalam. Pergi keluar negeri hendaknya mempelajarinya dari berbagai seginya. Bukan hanya di bidang pendidikan saja, tapi dalam hal politik, budaya, ekonomi, sosial dll. juga harus dipelajari. Sebab semua hal tersebut pada hakekatnya mengandung ilmu. Dan jangan keminter di negara orang lain”.

Itulah salah satu nasehat yang menjadi modal kami berangkat ke Brunei Darussalam. Setelah mendapatkan nasehat-nasehat sebagai bekal, kami pun meminta izin dan do’a kepada para dosen ISID dengan harapan acara Rihlah Tarbawiyyah ke Brunei Darussalam dimudahkan oleh Allah SWT dan mendapatkan manfaat yang banyak.

Setelah segala persiapan telah dipenuhi kami pun siap berangkat (08 Maret 2012). Kami berangkat dari ISID dengan dilepas oleh Bapak Rektor as-Sayyid Imam Subakir Ahmad secara simbolis dengan foto bersama sebelum berangkat maka dengan ucapan ”Bismillahi Allahu Akbar” para peserta pun berangkat menuju Bandar Udara Adisumarmo (SOC/WRSQ) di Solo dengan menggunakan bus Gontor. Kami tiba di bandara pukul 15.36 WIB sedangkan Jadwal penerbangan kami yaitu pukul 16.35 WIB dengan menggunakan pesawat Lion Air. Sambil menunggu kami pun menukarkan uang ke Money Changer yang ada di bandara. Kami sempat tercengang ketika melihat kurs mata uang Malaysia (Ringgit) saat itu adalah Rp. 3200 (1 Ringgit). Jumlah yang cukup besar jika dibandingkan dengan rupiah. Akhirnya, kami lega setelah uang kami sebagian telah berubah menjadi ringgit. Waktu penerbangan pun tiba, kami segera chek in dan menaruh koper-koper ke bagasi pesawat. Banyak hal yang baru kami ketahui tentang penerbangan. Mulai dari hal-hal yang dilarang untuk dibawa terbang sampai peraturan yang super ketat sebelum penerbangan dimulai.

Penerbangan dari Bandar Udara Adisumarmo (SOC/WRSQ) menuju The Low Cost Carrier Terminal (LCCT) Kuala Lumpur Malaysia memakan waktu 2 jam lebih 45 menit. Alhamdulillah kami semua tiba dengan selamat, begitu pula barang-barang bawaan kami. Setibanya disana, kami langsung menuju mushola untuk menunaikan shalat Maghrib dan Isya’. Waktu Kuala Lumpur memang lebih cepat 1 jam dari Indonesia. Setelah shalat, kami pun menuju rumah makan yang terdapat di lokasi bandara tersebut. Karena hawatir dengan harga makanan yang mayoritas mahal, teras masakan padang pun menjadi pilihan kami. Dengan harga makanan RM. 5 dan minuman RM. 1,5 kami pun mencoba membiasakan diri untuk menelan masakan has padang dengan rasa yang sedikit dirubah menyesuaikan lidah masyarakat luar negeri.

Pada awalnya kami memang sudah merencanakan transit di LCCT Kuala Lumpur dengan alasan penerbangan selanjutnya menuju Bandar Seri Begawan International Airport (BWN) Brunei Darussalam yang terletak di Berakas Brunei Darussalam dijadwalkan pukul 06.45 waktu Kuala Lumpur. Waktu seperti itu masih sangat pagi jika dibandingkan dengan waktu Indonesia. karena takut ketinggalan pesawat Air Asia maka sebagian dari kami pun rela begadang di rumah makan (Mohammad Ismail, Awaluddin Faj, Fajar Nurrohman, Jefri Muchlasin). Dengan ditemani empat botol minuman soya dan beberapa bungkus camilan kami menghabiskan waktu tengah malam dengan bercengkeramah untuk menghilangkan rasa ngantuk.

Saat itu waktu menunjukkan pukul 05.05 waktu Kuala Lumpur. Ini tandanya waktu chek in sudah dibuka. Kami segera bergegas membangunkan teman-teman untuk siap-siap chek in. Ternyata mereka sudah terlebih dulu bangun, bahkan sudah selesai menunaikan shalat subuh (meskipun belum waktunya), kejadian ini sempat menjadi obrolan lucu dalam perjalanan ke Brunei Darussalam. Sambil duduk di ruang tunggu akhirnya terpintas kabar bahwa semua penumpang penerbangan ke Brunei Darussalam diperbolehkan naik ke pesawat. Saat itu kami bingung karena ada satu peserta yang tidak ada di tempat (Awaluddin Faj). Kami bingung mencari kemana-mana tidak menemukan juga. Karena waktu penerbangan sebentar lagi, kami pun memutuskan untuk meninggalkannya. Tapi semua barangnya kami bawa karena takut diambil orang. Kami pasrah, semoga saja dia tahu bahwa pesawat sebentar lagi berangkat. Setelah menunggu sekian lama, syukur Alhamdulillah akhirnya dia pun berlari secepat mungkin karena hampir saja pesawat akan tinggal landas. Kehawatiran kami pun terobati dengan kedatangannya. Hampir saja peserta Rihlah Tarbawiyyah tinggal 9 orang.

Perjalanan menuju Brunei Darussalam membutuhkan waktu 2 jam setengah. Kami sampai di bandara internasional Bandar Sri Begawan sekitar pukul 09.45 waktu Brunei Darussalam. Setelah mengambil barang bawaan, kami pun keluar bandara dan ternyata kami sudah dijemput oleh IKPM Brunei Darussalam dan para dosen UNISSA. Sebuah sambutan yang luar biasa istimewa. Mobil UNISSA terlihat jelas di depan bandara telah menunggu kedatangan kami. Setelah bersalaman kepada penjemput, kami dihantar menuju hotel “Pusat Belia”. Saat itu hotel terlihat ramai dengan pemain bola Brunei Darussalam. Namun, itu bukan masalah bagi kami yang terbiasa bersosial dengan siapa saja. Sambil menunggu waktu shalat Jum’at kami istirahat sejenak serta merapikan barang bawaan kami.

About the Author: