12
2010
Kenali Pribadi Anda Sebelum Memasarkan Diri (Ep.2)
Postingan kali ini adalah sambungan dari postingan sebelumnya, jadi bagi temen-temen yang belum baca Episode Pertamanya, silahkan Klik Di Sini Dulu.
Berikut akan saya paparkan solusi yang mungkin masuk akal bagi sebagian orang namun tidak menutup kemungkinan tidak bisa diterima oleh orang lain.
Salah satu hal terpenting yang sering dilupakan oleh kebanyakan pelamar kerja yaitu kurangnya memahami kemampuan pribadinya. Sebut saja kemampuan yang telah ia miliki sebagai hasil dari belajarnya sejak kecil atau mungkin kemampuan tersebut adalah yang telah diajarkan orang tuanya.
Yang paling saya ingin tekankan dalam “Marketing Self” disini bukanlah tindakannya melamar. Mungkin hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh Mbak Intan yaitu banyaknya orang di sekitarnya yang “candu” menjadi PNS dengan harapan bisa mendapatkan gaji setiap bulan tanpa harus kerja lagi.
Candu PNS, sebagai contoh nyatanya ini telah mengakibatkan turunnya harga kemampuan seseorang. bagi sebagian orang (yang belum punya kemampuan) ia pasti akan merasa istimewa dengan jadi PNS, tapi belum tentu hal yang sama dirasakan juga bagi mereka yang memiliki kemampuan lebih.
Pikiran-pikiran yang “Cetek” karena menargetkan PNS sebagai tujuan diciptakannya kemampuan dalam dirinya ternyata menjadikan seseorang menggantungkan “harga” dirinya kepada suatu pekerjaan yang dikelola orang lain.
Lantas, apakah orang yang menjadi PNS dan sejenisnya itu semuanya buruk?
Tidak, saya tidak mengatakan buruknya jadi PNS atau pelamar kerja. Hanya saja sudahkan mereka memahami kualitas dirinya sehingga menyimpulkan untuk segera melamar kerja?, kenapa dengan kemampuan yang mereka anggap telah ada dalam diri itu tidak diwujudkan dalam bentuk lapangan kerja baru? (tentunya setelah mengolah kreatifitas dari potensi yang ada).
Saya yakin jika orientasi kerja itu adalah uang. Maka pastinya orang yang membuka suatu usaha sendiri nantinya akan mampu menghasilkan profit yang lebih ketimbang pelamar kerja atau orang yang kerja di suatu usaha milik orang lain.
Kembali ke Mindset
Barangkali inilah solusinya,
Tindakan seseorang tidak bisa lari jauh dari hasil pikirannya.
Banyak yang mengatakan bahwa lowongan kerja semakin menyempit sedangkan pelamar kerja makin banyak, inilah yang memaksa seseorang untuk “memasarkan dirinya” menjadi bawahan.
Menurut saya, bukan lowongan kerja yang makin sedikit tapi justru “Pola Pikir” orang saat inilah yang menyempit.
Kenapa demikian?
Sebab, ketika orang mencari kerja, yang pertama kali ditanyakan pasti “Kamu ada lowongan kerja tidak buat saya?”, kenapa tidak bertanya pada dirinya sendiri saja untuk membuka suatu usaha atau melakukan suatu tindakan yang mengarah pada pembangunan suatu usaha baru. Hal ini membutuhkan tenaga ekstra di awal tapi setelahnya tidak demikian.
Semakin banyaknya wacana sempitnya lapangan kerja maka pikiran kita juga akan dipenuhi isu bahwa lapangan kerja makin sedikit sehingga mau tidak mau kita pun ikutan terjun kedalam sempitnya lapangan kerja, lantas jika memang benar lapangan kerja makin sedikit kenapa kita tidak membuka usaha baru saja, itung-itung memperluas lapangan kerja.
Jadi, semakin kita kenali potensi yang ada dalam diri kemudian di asah maka hasilnya juga tidak akan menggantungkan pada satu bidang usaha.
Lebih-lebih usaha tersebut adalah sebagai bawahan orang lain. Justru dengan mengenal potensi diri pasti semangat untuk membangun usaha baru akan timbul dan tidak menyandarkan masa depannya dengan lapangan kerja orang lain.
Kembali ke Mental
Postingan ini merupakan bentuk dari pengembangan diskusi saya bersama Mas Andi, meskipun singkat tapi poinnya ada donk. He.. He..
Mental orang-orang kita memang “mental bawahan”, disadari atau tidak itulah kenyataannya. Ketika telah datang saatnya untuk bekerja, hal utama yang dikejar yaitu “segera mencari kerja”. Kebiasaan “mencari kerja” inilah yang menjadikan mental kita selalu bertujuan untuk kerja kepada orang lain. Ini disebabkan kita belum kenal dengan diri kita.
Jika kita lihat pada Negara maju, orientasi setiap kegiatan mereka yang lebih mengarah pada pengembangan kreatifitas serta membentuk kemampuan pribadi yang lebih ditekankan, sehingga mayoritas ketika datang saat bekerja mereka sudah ada modal potensi untuk dikembangkan. Tinggal olah sedikit jadi dah hal baru…
Memang tidak bisa dipaksakan secara langsung, setidaknya ada upaya untuk membentuk mental yang lebih mengarah pada pengembangan diri, sehingga potensi-potensi baru akan muncul dan bisa menciptakan lapangan kerja baru.
So The Best One Is…
Pelajari kembali potensi apa yang ada dalam diri anda saat ini, jika belum segera gali potensi yang cocok dengan anda. Lalu pupuk dari sekarang potensi tersebut, semakin anda sayangi potensi anda maka masa depan andalah yang menentukan, bukan orang lain.
Jadi, ketika anda telah mengenali pribadi anda maka posisi bawahan akan lari dari kehidupan anda. Itupun berlaku sebaliknya.
Cukup sekian 2 Episode Tulisan saya..
Gimana temen, udah dapat poinnya belum?
Share di kolom komen aja yach… g pake’ SMS, malah buang2 pulsa, he..he..
Related Posts
13 Comments + Add Comment
Page Rank
Advertisment
Categories
- Affiliate Marketing
- Article Contest
- Artikel Marketing
- Artikel Umum
- Bisnis Franchise
- Bisnis Online
- Blogging
- Catatan Harian
- Entrepreneur
- Ide Bisnis
- Marketing
- Motivasi Bisnis
- Opini
- Peluang Usaha
- Renungan
- Review Pengusaha
- Strategi Marketing
- Tips Berbisnis
- Tips Marketing
- Tips Menulis
- Toko Online
- Tulis Menulis

An article by





kemungkinan hampir setiap orang yang lulus sekolah berharap bisa langsung mendapatkan pekerjaan walaupun tidak sesuai dengan apa yang pernah ditekuni pada waktu sekolah. dan bila sudah bekerja dianggap sudah sukses.
trims atas ilmunya, semoga sukses selalu n tetap semangat.
semoga silaturahim ini terus terjalin dengan baik
@harto, Itu merupakan kesalahan orientasi pendidikan kita mas. makanya pendidikan kita selayaknya harus diarahkan pada penggalian potensi kemudian diarahkan untuk mengembangkannya, mungkin itu lebih baik daripada memberikan peluang pekerjaan secara langsung.. anak g ada kreatifitasnya, dan kalo sukses pun g akan tahan lama coz g tahan banting..
Makasih silaturrahminya mas
wahhh… klu ini saiia setuju banged nii..
setujuu!!!
emang kita harus tau isi kita sendiri sebelum ngejual diri ke luar
Boleh.. boleh. boleh…
Yang g tahu diri tuh, udah g tahu isi pikirannya n nekad ngejual diri gan.. he..he..
sip…. oke lah kalo begitu
apanya yang oke mas?
Jadi PNS buat saya sebenarnya bukanlah keinginan. Keinginan yg pasti adalah saya harus punya penghasilan dari saya sendiri, sehingga saya tidak akan tergantung dengan orang lain, mis. suami. Dan ketika saya jadi seorang PNS terlebih karena kuliah sekarang tidak ada yg gratis (untuk keluarga saya yg kurang mampu) kecuali yg ikatan dinas dgn konsekuensi ya jadi PNS. Alhamdulillah saya jadi PNS yg sebenarnya karena saya benar2 kerja bukan cuma absen.
@Atikah, Makasih atas tambahannya mbak atikah,
Mau jadi apa saja itu baik (kecuali penjahat, he..he..) asalkan kita telah mewujudkan “Kemampuan Puncak” kita.
Semoga hasil dari PNS tidak menjadikan anda menutup potensi yang telah ada dalam diri mbak atikah sendiri. Amiiin,
Makasih kunjungannya
Cerita soal menggali potensi, banyak orang yg masih tersesat menemukannya. Mereka pikir sudah dijalan yg benar, tetapi nurani mereka tidak layak ditempat tersebut.
@Kaget, Untuk itulah perlunya menyatukan visi dan misi antara organ fisik dan nurani mas…
Makasih sharingnya.. semoga dapat maju lebih baik
Waw… blognya penuh warna neh
@Erdien, Tapi g belepotan kan pak?? he..he..
@ismail, Nggak Mas, keren!!!