9
2010
Kenali Pribadi Anda Sebelum Memasarkan Diri
Sudahkan anda kenali diri anda?
Seringkali kita melangkah menapakkan kaki di hamparan luasnya bumi, hampir tiap hari juga kita tidur kemudian bangkit untuk melakukan aktifitas yang berbeda, itulah aktifitas yang tidak pernah kita lupa. Tapi seringkali diantara kita lupa bahwa ia belum kenal akan dirinya sendiri.
Kadang kala saya melihat kebanyakan orang mengeluh akan kemampuan dirinya, katanya, ia tidak mampu melakukan hal yang yang bisa dilakukan orang lain. Acap kali saya berfikir, kenapa ia berfikir seperti itu ya?,
Barangkali mereka susah untuk memahami hakekat keberadaannya. Bisakah ia menjadi seperti diri orang lain yang ia pikirkan. Sebenarnya saya ingin sekali mengatakan, kamu pasti bisa seperti mereka, tapi saya sendiri takut mengatakannya. Sebab ia pasti ada saja alasan untuk menolak jawaban saya.
Ach, mungkin itu akibat dari saya belum kenal diri saya sendiri sehingga untuk mengatakan hal gitu saja saya tidak bisa. Bicara memang mudah, tapi ada juga yang mengatakan bicara yang bagus itu sulit, berarti bicara juga sulit donk.
Perkenalkan, nama saya andi, usia saya 27 tahun, saya lulusan S1 Fakultas Informatika, pengalaman saya.. bla… bla… bla…
Kurang lebih begitulah cuplikan dari kebanyakan orang yang sedang “memasarkan” dirinya kepada orang lain atau dalam employing a job (melamar kerjaan), yach kurang lebih gitulah salah satu syarat untuk dapat diakui kemampunnya.
Marketing self, begitulah saya menyebut orang yang melakukan hal seperti itu. Meskipun sudah menjadi adat istiadat dalam suatu lamaran kerja, secara tidak sadar orang yang melakukan hal tersebut sedang melakukan marketing self, atau “Pemasaran Diri”.
Eits.. marketing self yang saya maksud bukan seperti kasus trafficking lho yach. Tapi marketing self disini adalah cara kita meyakinkan orang lain terhadap kemampuan kita. Bahasa kasarnya, supaya mereka tahu “Inilah Aku Yang Layak Pakai”.
Kasar banget pilihan katanya?, udahlah yang penting maknanya kan?
Seberapakah pengaruh strategi marketing self ini dalam dunia kerja, sehingga kebanyakan perusahaan-perusahaan menjadikan syarat sebelum diterima kerja. Hal seperti ini memang di butuhkan oleh perusahaan kerja, tapi sadarkah kita bahwa hal seperti itu merupakan “pembajakan skill dan identitas”.
Saya katakan sebagai pembajakan skill karena kita dipaksa untuk mempromosikan diri dan kemampuan kita di depan mereka dengan keterikatan syarat kemampuan. Jika kita memenuhi “keterikatan” tersebut maka kita “layak pakai”, namun jika tidak ya silahkan mundur.
Pertanyaannya sekarang, kenapa kebanyakan orang rela dirinya dibajak?
Tanggapan temen-temen akan menentukan pembahasan selanjutnya.
Soo.. silahkan dijawab menurut pandangan masing-masing yach.. kalo belum paham juga boleh nanya ko’. Key..
Related Posts
29 Comments + Add Comment
Page Rank
Advertisment
Categories
- Affiliate Marketing
- Article Contest
- Artikel Marketing
- Artikel Umum
- Bisnis Franchise
- Bisnis Online
- Blogging
- Catatan Harian
- Entrepreneur
- Ide Bisnis
- Marketing
- Motivasi Bisnis
- Opini
- Peluang Usaha
- Renungan
- Review Pengusaha
- Strategi Marketing
- Tips Berbisnis
- Tips Marketing
- Tips Menulis
- Toko Online
- Tulis Menulis

An article by





pertamax dulu ya Mas…
Monggo, sekecakne…
ditunggu pembahasan selanjutnya
Silahkan… tapi udah nyambung blm ne?
hehehe… pembelajaran yg sengaja ato gak sengaja(sadar ato pingsan,hehehe)yg didapat oleh ortu dan lingkungan juga mempengaruhi pola pikir kykny ya. kyk di kampung sy,kebanyakan profesi sbg pns(mayoritas guru). kebanyakan(maaf,bkn mksd mendiskriminasi),org2 di kampung sy “mengidolakan” pns.dg hlasan ayem,tiap bulan gajian,dpt pensiun,dll.mereka merasa asing dg profesi wiraswasta, wirausaha,dll.mereka beralasan “saya nggak punya bakat”. nah lho… sssttt… termasuk saya lho. tp setelah sy hijrah ke cirebon, dg komunitas baru.paradigma itu berubah. soalnya lingkungan sy kbtln gak ada pns.swasta smua.sy bnyk bljr semngt dan optimisme mereka
oalah… lha kok mlh curhat sy. xixixi… (maaf).itu dl aj mas dr sy. jaka sembung maen golok, gak nyambung tlg sambung2in ya….
nice blog,nice article, moga cucok y
bisa jadi yang disampaikan benar, bahwa pola pikir itu dipengaruhi keluarga dan lingkungan. Ketika terpolakan bahwa kalo ga PNS ga bisa hidup, bisa jadi usaha ringan yang menghasilkan uang “melebihi PNS” dipinggirkan, alhasil yang terjadi ya tetep jadi bahawan, kayak ane maksutnye hehe
Bawahan ya tetep aj bawahan, kalo mau naik jadi atasan ia harus pandai2 “memasarkan diri kpd atasan”.
Tinggl pilih mw ttp jdi bawahan abadi dg gaji bulanan pasti atau jadi atasan yg bsa menentukan gaji seseorang?,
Curhat jg gpp ko’ jeng.. he.he..
Kata2 “kebanyakan” itulah yg membuat diri seseorang “terkontaminasi” penyakit “ubex2 jatidiri”…
Anggapan gaji PNS yang enak itulah yg membuat orang rela pontang-panting nyari jalan, padahal masih banyak profesi yg akn memberi “passive income” bahkan melebihi gaji PNS.
Itulah yg sy sebut dg “penyakit ngalor ngidul” mbak.. he..he..
mau curhat lagi??
karena terlalu banyak pengangguran and sedikitnya tempat kerja, memang harus jadi the most outstanding jika ingin hasil sesuai yang kita inginkan…
Salam sukses dari Semarang…
Banyaknya pengangguran tuh disebabkan oleh seringnya “personality” yang dibajak.
Jika ingin hasil yang sesuai justru kita harus “menuntut” diri kita untuk lebih kreatif dan lebih berfikir luas. Bukan berfikir secara singkat, padat, cepat namun g ada tujuan dan target yang pasti.
Gimana dengan argumen saya mas?
Salam Sukses juga.
Boleh.. Boleh aja jawaban apapun.
Sebenarnya lowongan kerja tuh g menyempit, tapi justru malah meluas mas, yang menyempit tuh, pikiran seseorang yang telah dipengaruhi pikiran lingkungan sehingga menjadikan lowongan kerja seakan-akan sempit.
“Kurangnya usaha” dan “kurangnya ke_PD_an” pada dirinyalah yang membuat ia mau terus menerus DIBAJAK wacana lingkungan.
Gimana kalo dg ini mas?.. he..he..
ish mantab,,,, bukan hanya barang, kita juga bisa memasarkan diri. judulnya sangat menggoda
Mantab apanya soul???
Sayang artikel ini bagus tapi kok gak dituntaskan ya? Jadi penasaran. Terimakasih telah mampir. Ternyata teman mas Arif Maulana juga ya. Salam kenal!
sama saya juga kok jadi nanggung ya? mungkin ada jilid 2nya kali
Emang ada episode 2nya mas.. he..he…
Nah, episode ke-2nya nnti bergantng pd respon tmen2 disini..
Yaa.. begitulah mas
Salam Kenal juga. makasih udah silaturrahmi ya
loh nama saya juga andi? dan saya buka tukang bajak loh
saya ada pertanyaan buat mas ismail yang jadi kejanggalan di pikiran saya.
1.apa dasar apa kok bisa di katakan “pembajakan skill dan identitas”? perusahaan itu benar. mereka cari yang berkompeten. jika kita bisa kita maju jika tidak kita mundur. pelamar pun benar.
pertama. dia butuh pekerjaan dan melamar sesuai dengan bidangnya.
kedua. hidup ini adalah belajar dan mencoba. kalo kita engga mampu terus mundur selamanya kita engga bisa.
2.kenapa harus takut mengatakan kepada teman anda?
“Sebenarnya saya ingin sekali mengatakan, kamu pasti bisa seperti mereka, tapi saya sendiri takut mengatakannya. Sebab ia pasti ada saja alasan untuk menolak jawaban saya.
Ach, mungkin itu akibat dari saya belum kenal diri saya sendiri sehingga untuk mengatakan hal gitu saja saya tidak bisa. Bicara memang mudah, tapi ada juga yang mengatakan bicara yang bagus itu sulit, berarti bicara juga sulit donk”
paling cuma itu untuk saat ini
keep spirit, keep blogging
Makasih udah mampir gan.. Nama andi kan bukan bajakan ya mas??
He..he.. janggal bukan berarti salah juga kan mas?
Perusahaan dan Pelamar kerja sama2 g ada yg salah ko’, sya juga g nyalahkan strategi mereka, cuma ini kn sbg bentuk lain dari kreasi pikiran saja.
“Pembajakan diri dan Identitas” maksd saya hanya sbg bentuk kiasan sja mas, tp ad dsarnya lho ya.. yaitu karena kawan2 kta masih mengutamakan “melamar kerja” setelah tahu kualitas dirinya sehingga timbul pikiran ;
“Saya akan melamar kerja ke sini.. karena sya punya kemampuan gini dan gitu maka saya pasti ketrima”
dalam pikiran saya, knp g diubah gini aj kalimatnya;
“Saya bisa gini dan gitu maka sya akan berusaha mewujudkannya dg membuka peluang kerja”.
Nah, kira2 gto mas,, setiap kepala punya pikiran, jdi bleh share asal kpla ttp dingin.. he..he..
Salam Salut Buat Blogger Andi Sakab..
i see…i see
kalo gitu itu kembali kepada mental dan mindsetnya sendiri. mungkin ini bisa di masukan dan di lengkapi ke jilid 2nya kali ya?
enggga ada yang salah kok. cuma harus dipertajam lagi aja supaya engga kabur dan burem. sebab korelasinya lumayan jauh walaupun jujur saya ngkritik tapi belum tentu saya mampu nulisnya
lambat laun kalo diasah pasti makin ok nich. semangat ya?
Ok deh, masukan yg bagus mas andi,
Silahkan tunggu episode ke-2nya ya. ne lg disusun. he..he..
kenalkan nama saya bluethunderheart.hehehe
p caar kawan
sennag rasanya mendapat sahabat baru
salam hangat dari blue
salam hangat juga mas dobleh
dalam pemasaran diri, harus bisa menumbuhkan citra diri yang postitif dankreatif ya Mas…
citra diri positif dan kreatif sangat membangun pola pikir yang sehat.
mantab gan
heya from Kansas! Just found your posts. Actually took in your article, I’ll forward it along! Laughing Have a fantastic day!
[...] berbeda jika anda menggabungkan antara emosi dan spiritual. Ketika anda mengalami kegagalan anda akan mampu memikirkannya secara mendalam, [...]
[...] pelanggan tidak mendapatkan nilai tambah di suatu penawaran, mereka enggan untuk mengunjungi maupun membeli produk yang kita [...]
[...] saat ini. Marketing terus berkembang seiring dengan perputaran bumi. Maka dengan begitu, siklus mastering marketing juga akan selalu berputar layaknya alam semesta. Yang tua akan segera digantikan yang mudah, dan [...]