Kelakuan Siswa SMA 2 Tolitoli dan Pendidikan Adab

Baru-baru ini terdapat fakta yang cukup mencengangkan dalam dunia pendidikan. Kasus terhangat yaitu tersebarnya video “Kelakuan Siswa SMA 2 Tolitoli” yang cukup mencoreng sekolah tersebut. Video tersebut dipublikasikan melalui Youtube pada Selasa, 16 April 2013 dengan akun bernama Muhammad Fadil.

Dalam video tersebut terdapat 5 siswi yang sedang memperagakan gerakan shalat. Akan tetapi, gerakan shalat tersebut dipermainkan dengan dibumbuhi gerakan goyang ngebor dan goyang patah-patah. Entah apa niatan siswi SMA 2 Tolitoli tersebut. Faktanya mereka telah mencampur antara gerakan shalat, bacaan al-Fatihah dan goyangan yang tidak lazim dilakukan oleh muslimah.

Atas perbuatan mereka tersebut pihak sekolah resmi memberikan sanksi berupa pengeluaran siswa terkait dari sekolah tersebut. Sebagai konsekwensi tindakan mereka adalah tidak dapat mengikuti UN pada tahun ini. Ini sebagai pukulan telak bagi mereka supaya sadar dan tidak mengulangi perbuatan semisalnya.

Namun, permasalahan ini tidaklah semudah yang dibayangkan. Ada tindakan dan ada hukuman itu sudah wajib dilakukan. Tapi, yang menjadi pertanyaan besar ialah kenapa siswa SMA 2 Tolitoli melakukan hal tersebut. Pertanyaan ini tentu bukan tugas kepala sekolah atau guru di sekolahan SMA 2 Tolitoli semata. Bahkan pihak guru di lembaga pendidikan lainnya pun harus memikirkannya.  Sebab bagaimanapun juga kejadian yang seperti itu bukanlah kali pertama. Banyak kasus tentang pelecehan syariat agama yang dilakukan oleh kalangan pelajar. Terlebih pelajar muslim.

Jika kita jeli melihat kejadian tersebut bisa dikatakan bahwa kelakuan siswa SMA 2 Tolitoli yang tersebut dikarenakan hilangnya adab di dunia pendidikan. Sebagaimana dikatakan oleh Prof. Naquib al-Attas bahwa pendidikan Islam hendaknya  lembaga pendidikan Islam mampu menanamkan adab dalam diri setiap siswanya. Dengan adab itulah siswa akan mampu membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan yang salah. Ketika siswa mampu membedakan itu semua maka bisa dipastikan setiap tindakan mereka akan berdasarkan syariat agama yang benar.

Ini menandakan bahwa adanya hubungan antara kasus kelakuan bejar siswa SMA 2 Tolitoli dengan pendidikan adab. Penodaan agama atau pelecehan terhadap simbol-simbol agama kurang lebih dikarenakan kurangnya pemahaman tentang apa itu agama dan untuk apa ada agama. Untuk itu, menjadi tugas para pendidik yaitu menanamkan pendidikan adab dalam setiap lembaga pendidikan yang ada. Sebab dengan penanaman adab inilah manusia akan tahu makna agama dan bagaimana cara beragama yang benar. Sehingga dengan demikian menjadi seorang muslim/muslimah bukan hanya tersemat pada nama dan kartu keluarga. Lebih dari itu, identitas muslim haruslah melekat dalam tindakan seseorang.

Jadi, mungkin tidak berlebihan apabila saya menilai bahwa hilangnya adab dalam dunia pendidikan merupakan salah satu penyebab terjadinya kelakukan siswa SMA 2 Tolitoli. Untuk itu, saya menghimbau kepada seluruh pendidik di lembaga manapun untuk memperhatikan juga adab siswa-siswinya.

Semoga menjadi masukan yang bermanfaat bagi semuanya.

About the Author: