Hasrat Islam dalam Lipatan Peradaban

Nama Pengarang       : Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. M.Phil.

Judul Buku                   : Peradaban Islam (Makna dan Strategi Pembangunannya)

Tahun Terbit               : 2010

Tempat Terbit            : Ponorogo

Tebal Buku                   : xi + 100 Halaman ; 12 x 18 cm

Penerbit                        : CIOS (Centre for Islamic and Occidental Studies)

Saat ini islam makin terombang-ambing oleh gelombang perpecahan. Bukan hanya perpecahan di bidang furu’iyyah, lebih dari itu, dalam hal ushuliyyah pun banyak lahir kelompok-kelompok yang sebenarnya bukan islam, tapi mengaku-ngaku bagian dari islam. Ahmadiyyah dan Syi’ah misalnya. Mereka bukan bagian dari islam tapi tidak ingin di sebut keluar dari islam. Ini tentu problem yang bisa jadi menghancurkan tatanan peradaban islam yang saat ini mulai dibangun kembali oleh para pemikir-pemikir muslim kontemporer.

Upaya membangun kembali peradaban islam ini bukan hanya isapan jempol. Sekarang memang sedang dimulai menata kembali pondasi dan dinding-dinding peradaban sebagai asas dari berdirinya sebuah peradaban islam. Mengapa dibangun kembali?. Jika melihat sejarah peradaban islam dulu maka ungkapan “membangun kembali” ini sudah sesuai. Pasalnya, peradaban islam dulu telah mengalami kehancuran, baik dari segi pondasi maupun tembok-tembok yang awalnya telah membentengi aqidah umat islam. Di mana letak problemnya?, mari kita lihat.

Hamid Fahmy Zarkasyi, dalam bukunya Peradaban Islam (Makna Dan Strategi Pembangunanya) mencoba mengkaji penyebab kemunduran peradaban islam tersebut. Dalam salah satu babnya beliau mengatakan bahwa terdapat beberapa faktor penting penyebab keroposnya bangunan peradaban umat islam. Di antaranya yaitu: 1) Faktor ekologis dan alami. Yang mana tempat umat islam berada itu adalah gersang atau semi gersang dan tempat yang rentan terhadap serangan musuh seperti di Iraq, Syiria, dan Mesir. Sehingga memungkinkan musuh islam untuk menyerang sewaktu-sewaktu. 2) Faktor eksternal. Perang salib adalah bukti kelemahan eksternal umat islam. Perang yang terjadi pada 1096 hingga 1270 akibat serangan Mongol itulah penyebab awalnya yang memporak-porandakan peradaban islam. Mengutip perkataan Bernard Lewis, “Pada dasarnya merupakan pengalaman pertama imperialism barat yang ekspansionis dimotivasi oleh tujuan materi dengan menggunakan agama sebagai medium psikologinya”. Dengan serangan ini maka berakhir pula kekhalifahan Abbasiyah. 3) Hilangnya perdagangan islam internasional dan munculnya kekuatan barat. Dengan munculnya kekuatan barat ini, bukan berarti peradaban islam mati. Bahkan islam terus bangun kembali sehingga dianggap ancaman bagi barat.

Intinya, kerusakan peradaban umat islam ini lebih diakibatkan oleh rusaknya sumber daya manusia, baik secara intelektual maupun moral, begitulah ungkapan Ibn Khaldun yang dikutip oleh Hamid Fahmy. Artinya, ketika umat islam sudah tidak lagi mengedepankan nilai-nilai agama dan lebih mementingkan materi maka tinggal menunggu saja waktu kehancurannya. Ini sudah menjadi rumus pasti untuk berdirinya suatu peradaban yang kokoh. Terlebih peradaban islam.

Berdasarkan fakta inilah Hamid Fahmy mengajukan sebuah strategi sebagai solusi untuk membangun kembali peradaban islam yang dibahas secara tersendiri dalam satu bab terakhirnya. Pertama, Memahami sejarah jatuh bangunnya peradaban islam di masa lalu. Kedua, Memahami kondisi umat islam masa kini dan mengidentifikasi masalah atau problematika yang sedang dihadapi umat islam masa kini. Dan ketiga, Sebagai prasyarat bagi poin kedua, adalah memahami kembali konsep-konsep kunci dalam islam.

Setelah mengetahui sejarah jatuh bangunnya peradaban islam, hal terpenting selanjutnya yaitu memahami kembali konsep-konsep kunci dalam islam untuk mengatasi permasalahan umat islam saat ini. Poin utama yang ingin disampaikan oleh Hamid Fahmy melalui buku kecilnya tersebut adalah memahamkan kembali konsep-konsep mendasar yang bermuara pada ilmu pengetahuan dalam islam. Untuk memahamkan kembali konsep dasar islam, langkah yang harus ditempuh yaitu melalui pendidikan. Mulai dari pendidikan pesantren, madrasah, hingga perguruan tinggi islam. Pendidikan memang memiliki peranan yang sangat vital dalam membangun peradaban. Ini berfungsi untuk membangkitkan kembali tradisi keilmuan dalam diri umat islam.

Mengutip perkataan Naquib al-Attas, Hamid Fahmy menegaskan bahwa untuk membangun kembali tatanan konsep islam dalam diri umat muslim diperlukan satu upaya mendasar yaitu islamisasi ilmu pengetahuan. Islamisasi ini mutlak dilakukan karena melihat ilmu pengetahuan yang telah di-Barat-kan atau sekuler. Karena ilmu pengetahuan telah dijauhkan dengan ilmu agama, maka umat islam harus mengembalikannya ke pangkuan agama. Dengan demikian, upaya untuk membentuk pribadi muslim bisa dilakukan dengan cara menanamkan ilmu pengetahuan yang telah terintegrasi dengan nilai-nilai agama. Inilah solusi utama yang ingin digaungkan Hamid Fahmy kepada umat muslim dunia untuk membangun kembali peradaban islam.

Peradaban umat islam ini adalah peradaban yang total. Maksudnya, peradaban islam tidak terlepas dari nilai-nilai agama, pendidikan, politik, ekonomi, sosial, dll. Sebuah peradaban yang sangat menjunjung nilai ketuhanan dan ilmu pengetahuan. Bukan seperti peradaban barat yang sekuler dan yang jauh dengan agama.

Akhirnya, pembahasan tentang Peradaban Islam (Makna dan Strategi Pembanunannya) ini sangat menarik dan mampu membuat penulis (resensi) tidak berhenti membolak-balik halaman demi halaman. Setelah seharian selesai membaca, jari-jari inipun tidak mau diam menuliskan inti dari buku tersebut. Tulisan Hamid Fahnya ini sangat renyah untuk dibaca, lugas, jelas, tegas dan tentunya sangat ilmiah karena diperjelas dengan footnote bahkan innote. Penulis mengira bahwa Hamid Fahmy tidak sedang sesumbar. Tapi, beliau sedang memetakan sebuah bangunan peradaban islam yang sangat mutlak untuk segera diaplikasikan.

Meskipun buku ini mungil, dengan fisik (12 x 18 cm) ternyata tidak mengurangi ketajaman beliau dalam menganalisa bangunan peradaban baik barat atau pun islam. Sangat jelas, semua tulisan sarat akan referensi-referensi ilmiah baik karya ilmuwan barat maupun muslim klasik dan kontemporer . Oleh sebab itu, buku kecil ini sangat cocok untuk dijadikan referensi dalam upaya membangun kembali peradaban islam yang sempat dihancurkan oleh kekuatan asing. Adapun kekurangan dari buku ini hampir tidak terlihat. Akan tetapi, akan sangat bermakna apabila pembahasan bab demi bab ditulis lebih banyak lagi. Intinya, kekurangannya adalah kurang tebal atau banyak. 100 halaman untuk kategori buku ilmiah tentu sangatlah kurang. Apalagi pembahasannya adalah tentang strategi membangun kembali peradaban islam. Akan lebih baik jika pembahasan tersebut diperbanyak dan dicetak secara meluas.

About the Author: