Geng Motor Meneror, Kemana Densus 88 ?

Kata “teroris” tentunya masih melekat erat di urat otak kita. Teroris yang sempat diidentikkan dengan kelompok islam ternyata kini juga layak disematkan kepada Geng Motor.

Geng Motor bukanlah suatu kelompok yang didirikan tanpa tujuan. Hal ini bisa ditelusuri dari berbagai kasus yang mereka perbuat. Apalagi tujuan mereka selain membuat onar atau membuat pikiran masyarakat supaya tertuju padanya dan melupakan berbagai kasus yang sedang melanda mereka. Geng motor dulu hanya identik dengan kegiatan balap liar, ternyata kini menjadi semakin brutal. Bak preman yang siap membantai siapa saja yang ada di hadapannya. Tidak peduli siapa dia, apa yang sedang mereka lakukan atau apa pun alasannya, geng motor tidak akan membiarkannya begitu saja.

Aksi brutal dan sadis menjadi ciri has geng motor saat ini. Suka menyerang, memukuli bahkan sampai membunuh seperti telah menjadi visi misi kelompok tersebut. Memang mereka tidak beraksi secara individu. Mereka kerap beraksi secara berkelompok, sebab itulah identitas suatu geng.

Aksi mereka terbilang sangat luar biasa. Mereka bisa melakukan penyerangan di beberapa tempat dalam satu malam saja. Pada bulan April ini telah tercatat puluhan aksi yang telah mereka lakukan secara bersamaan dan di tempat yang berbeda-beda. Jakarta menjadi target utama penyerangan, entah apa mau mereka yang jelas masyarakat saat ini menjadi resah dan takut ke luar rumah. Khususnya di malam hari.

Berbicara tentang geng motor, sebenarnya di Jakarta sudah lama berdiri geng seperti ini. Sebut saja geng Pachinko (Pasukan China Kota), ini merupakan geng motor yang eksis pada tahun 70-80an. Geng yang didirikan oleh Yohanes Hubertus Eijkenbook atau Johny Indo ini terkenal dengan aksi perampokan toko emas. Karena aksi mereka yang meresahkan dan merugikan, akhirnya Johny Indo berhasil ditangkap dan dihukum selama 14 tahun penjara di LP Nusakambangan. Namun, setelah 3 bulan diam di penjara ia berhasil melarikan diri.

Selain geng Pachinko tentu masih banyak lagi geng-geng motor yang terus beranak pinak. Geng motor banyak merekrut anggotanya dari kalangan pemuda. Sebab, para pemuda di Indonesia bisa dikatakan kurang memiliki komunitas. Apalagi komunitas di Indonesia yang seharusnya mampu menjadi wadah penyaluran energi positif pemuda justru kurang mendapat perhatian dari berbagai pihak. Kemungkinan besar, ini adalah salah satu penyebab dari timbulnya geng-geng motor saat ini.

Melihat kegiatan yang dilakukan oleh geng motor akhir-akhir ini, bisa dikatakan aksi mereka lebih bersifat teror. Bukan sekedar kekerasan biasa karena ini dilakukan secara berkelompok dengan strategi dan perencanaan yang matang.

Jika dulu aksi bom dikatakan teror dengan alasan meresahkan dan membuat masyarakat takut, maka aksi para geng motor yang jelas-jelas melakukan aksi teror di mana-mana seharusnya lebih mudah ditelusuri dan diberi sanksi tegas. Sudah selayaknya pula aparat kepolisian mengumumkan bahwa geng motor adalah teroris dan layak diberantas hingga tuntas seperti layaknya memerangi teroris (pelaku bom).

Apakah teroris hanya milik kelompok yang berdiri dibawah bendera agama?. Lantas ke mana Densus 88 yang dibentuk untuk melindungi warga dari aksi terror?.

Ini merupakan hal yang ganjil bagi saya. Bagi saya, geng motor saat ini tidak perlu lagi diberi kata “maaf”. Bila perlu hukuman tembak di tempat mungkin bisa menimbulkan efek jera bagi mereka sehingga mereka akan mundur dengan sendirinya. Bukan hanya di Jakarta, di wilayah manapun apabila ada geng motor yang melakukan aksi teror kepada masyarakat hendaknya diberikan hukuman tegas.

Akan tetapi, polisi yang “katanya” akan melindung warganya, kini mereka seperti ayam yang terkurung dalam sangkar. Jika Densus 88 bisa mengendus keberadaan teroris yang berada jauh dari jangkauan mata mampu menemukannya, kenapa Densus 88 tidak mampu membabat habis para geng motor yang bebas beraksi “hanya” di wilayah Jakarta saat ini. Tentu ini suatu hal yang ganjil.

Menurut saya, munculnya geng motor secara tiba-tiba ini tidak lain hanyalah pengalihan isu yang didalangi pemerintah. Jika kita ingat-ingat lagi memori tentang banyaknya kasus yang terjadi di masa lalu maka tidak akan berbeda jauh dengan apa yang sedang terjadi saat ini.

Beberapa hari yang lalu warga Indonesia dibuat pusing dengan rencana kenaikan BBM. Meskipun hasilnya adalah kenaikan BBM tidak akan terjadi pada bulan April, namun sewaktu-waktu BBM bisa dinaikkan kapan saja. Dan inilah kesepakatan akhirnya. Saya curiga, jangan-jangan kasus geng motor ini sengaja dimunculkan untuk “menghibur” masyarakat yang pusing akan harga BBM.

Di lain sisi, umat islam pun dipermainkan dari segi akademis. Mungkin kasus yang satu ini tidak banyak diusung ke ranah publik, yang tahu akan RUU ini pun mungkin hanya kalangan akademisi. RUU KKG (Keadilan & Kesetaraan Gender) namanya, isu tentang persetujuan undang-undang ini memang tidak dimuat di media massa karena kemungkinan besar pemerintah tidak ingin umat islam di Indonesia protes keras dan berimbas pada penggulingan secara paksa.

Inilah liciknya pemerintah kita. Menutup beberapa kasus tapi dibalik itu mereka meloloskan beberapa undang-undang baru dengan leluasa tanpa protes dan kecaman dari masyarakat. Bahkan tanpa sepengetahuan masyarakat.

Saran saya, masyarakat jangan sampai lengah dengan isu yang diangkat oleh media. Perhatikan masalah yang paling penting bagi masyarakat luas. Jika dibuat skala perbandingan, kasus geng motor tentu tidak sebanding dengan kasus perencanaan kenaikan harga BBM dan rencana RUU KKG. Semoga pemerintah segera sadar akan penderitaan yang mereka berikan kepada masyarakatnya ini.

About the Author:

3 Comments