<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Perjalanan Hidup I Blog Motivasi I Pengembangan Diri I Pemikiran Islam I Bisnis</title>
	<atom:link href="http://ismailonline.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ismailonline.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 May 2012 06:31:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Catatan Untuk Buku “Menusantarakan Islam”</title>
		<link>http://ismailonline.com/catatan-untuk-buku-menusantarakan-islam/</link>
		<comments>http://ismailonline.com/catatan-untuk-buku-menusantarakan-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 May 2012 10:23:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailonline.com/?p=1744</guid>
		<description><![CDATA[“Islam yang ada di Indonesia saat ini adalah agama impor dari islam Arab”. Begitulah kurang lebih salah satu argumen Dr.Aksin Wijaya dalam acara bedah bukunya “Menusantarakan Islam”. Acara yang diadakan oleh fakultas ushuluddin STAIN Ponorogo ini terlihat ramai dengan datangnya beberapa mahasiswa fakultas ushuluddin dari kampus-kampus lain. Acara bedah berlangsung dengan baik. Akan tetapi, substansi dari isi buku yang dikarang oleh Aksin Wijaya sepertinya kurang baik dan kurang layak untuk dijadikan rujukan mengenai sejarah masuknya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Islam yang ada di Indonesia saat ini adalah agama impor dari islam Arab”. Begitulah kurang lebih salah satu argumen Dr.Aksin Wijaya dalam acara bedah bukunya “Menusantarakan Islam”. Acara yang diadakan oleh fakultas ushuluddin STAIN Ponorogo ini terlihat ramai dengan datangnya beberapa mahasiswa fakultas ushuluddin dari kampus-kampus lain.</p>
<p>Acara bedah berlangsung dengan baik. Akan tetapi, substansi dari isi buku yang dikarang oleh Aksin Wijaya sepertinya kurang baik dan kurang layak untuk dijadikan rujukan mengenai sejarah masuknya islam ke Indonesia. Di mana letak kekurangannya?, mungkin itu akan terjawab dari beberapa catatan ringan saya berikut ini.</p>
<p><span id="more-1744"></span></p>
<p>Seperti kebanyakan orang liberal lainnya, islam dianggap sebagai agama budaya. Yang mana, islam dieratkan dengan kebudayaan arab. Sehingga, islam tidak lagi murni sebagai agama wahyu sebagaimana yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad. Islam disebut-sebut sebagai agama buatan manusia. Inilah salah satu poin penting yang ingin disampaikan dalam bukunya Aksin Wijaya.</p>
<p>Aksin ingin menjadikan islam sebagai akar dari segala permasalahan yang dia lihat di Indonesia. Mungkin, karena merasa sedikit risau dengan sedikitnya kekerasan, akhirnya ia menjustifikasi bahwa agama islam adalah agama yang suka akan kekerasan. Dengan begitu piciknya melihat islam dari personal-personal pemeluknya.</p>
<p>Muslim arab dipaksa untuk beda dengan muslim Indonesia. Akhirnya yang terjadi adalah bukan lagi muslim arab atau muslim Indonesia melainkan islam arab dan islam Indonesia. Kata Muslim dan islam dari segi makna saja sudah tentu berbeda dan tidak akan bisa jika yang satu merepresentasikan yang lainnya.</p>
<p>Secara konteks saja, sebenarnya sudah rancu. Aksin dengan sengaja mengotak-kotakkan islam supaya lebih muda untuk disusupi paham-paham yang ia impor juga dari barat. Ia dengan enaknya membagi islam menjadi berbagai macam. Islam sufistik, islam nusantara, islam arab dll. Adalah islam yang ingin ditampilkan olehnya.</p>
<p>Islam arab yang dikatakan identik dengan kekerasan ia jadikan kambing hitam. Bukan hanya itu, lebih jauh ia mengatakan bahwa pondok pesantren merupakan tempat persemaian islam arab. Dari argumen ini dapat dilihat bahwa Aksin ingin membenturkan antara islam yang dibawa oleh para ulama timur tengah dengan islam yang ada di Indonesia. Dengan menampilkan dua kubu yang berbeda inilah Aksin ingin menilai bahwa islam arab dan islam Indonesia itu benar-benar ada meskipun pada hakekatnya islam hanyalah satu yaitu Islam (tanpa embel-embel apapun).</p>
<p>Bukan hanya itu, lebih jauh lagi, Aksin ingin memisahkan islam dan berbagai macam persoalan-persoalan politik, ekonomi dll. Ia melihat bahwa politik dan islam adalah dua kubu yang bertentangan dan tidak bisa disatukan. Entah disadari atau tidak, ia sebenarnya sedang melakukan dikotomi terhadap ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu sosial. Ia menganggap seakan-akan ilmu kepolitikan, perekonomian bukanlah dari Allah melainkan ciptaan manusia. Mungkin ia lupa akan adanya sejarah Rasulullah yang juga menertibkan dunia ekonomi dan politik yang sesuai dengan nilai-nilai agama islam.</p>
<p>Sayangnya, dari awal hingga akhir bedah buku, Aksin tetap bersikukuh bahwa ilmu sosial dan ilmu agama tidak akan bisa dipertemukan. Keyakinanya hanya berlandaskan pada fakta yang terjadi di Indonesia. Lagi-lagi, ia tidak mengkaji substansi keilmuan lebih mendalam akan tetapi ia melihat fakta yang ada di lapangan sebagai data pendukung bahwa ilmu sosial adalah seperti apa yang sedang terjadi. Dan itu semua tidak ada kaitannya dengan Allah.</p>
<p>Saya sengaja tidak menjabarkan lebih detail. Sebab semua pandangan Dr. Aksin saya anggap tidak sesuai dan kurang tepat jika diterapkan dalam agama islam. Dari isi buku tersebut saya akhirnya tahu bahwa paham-paham yang ia sebarkan tidak lain hanyalah mengekor dari dogma-dogma barat yang sebenarnya sudah usang dan tidak layak pakai lagi. Terlepas dari ia mengakuinya atau tidak, yang jelas isi buku tersebut sungguh memalukan bagi seorang doktor muslim. Ketidakjujuran dalam bidang keilmuan sepertinya sudah mendarah daging dalam dirinya. Semoga kita tidak terpengaruh olehnya.</p>
<div id="crp_related"><h3>Baca Juga Artikel Ini:</h3><ul><li><a href="http://ismailonline.com/menyoal-cara-pandang-barat/" rel="bookmark" class="crp_title">Menyoal Cara Pandang Barat</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/apa-yang-salah-di-tahun-baru-1433-hijriyah/" rel="bookmark" class="crp_title">Apa Yang Salah di Tahun Baru 1433 Hijriyah?</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/cyberspace-trend-ngeblog/" rel="bookmark" class="crp_title">Cyberspace, Trend ngeBlog</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/ketika-sepak-bola-dipertuhankan/" rel="bookmark" class="crp_title">Ketika Sepak Bola Dipertuhankan</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/marhabaan-yaa-romadhon/" rel="bookmark" class="crp_title">Marhabaan Yaa Romadhon</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailonline.com/catatan-untuk-buku-menusantarakan-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persamaan (Equality)</title>
		<link>http://ismailonline.com/persamaan-equality/</link>
		<comments>http://ismailonline.com/persamaan-equality/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 23:14:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Gender]]></category>
		<category><![CDATA[Kesetaraan]]></category>
		<category><![CDATA[KKG]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailonline.com/?p=1739</guid>
		<description><![CDATA[Nancy, sebut saja begitu, tiba-tiba minta cerai dari James, suaminya seorang profesional. Padahal ia sudah 10 tahun menikah. Sebagai ibu rumah tangga dengan 2 orang anak Nancy begitu menikmati kehidupannya. Penghasilan suami, sekolah anak-anak, dan kehidupan rumah tangganya tergolong sejahtera. Tapi, Nancy ternyata telah “kerasukan” paham kesetaraan gender. Ia menjadi tidak nyaman berkeluarga. Mengurus rumah tangga tiba-tiba serasa seperti pembantu atau budak. Di kepalanya serasa ada yang terus membisikkan tulisan Berger The family now appears [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Nancy, sebut saja begitu, tiba-tiba minta cerai dari James, suaminya seorang profesional. Padahal ia sudah 10 tahun menikah. Sebagai ibu rumah tangga dengan 2 orang anak Nancy begitu menikmati kehidupannya. Penghasilan suami, sekolah anak-anak, dan kehidupan rumah tangganya tergolong sejahtera.</p>
<p>Tapi, Nancy ternyata telah “kerasukan” paham kesetaraan gender. Ia menjadi tidak nyaman berkeluarga. Mengurus rumah tangga tiba-tiba serasa seperti pembantu atau budak.<br />
<span id="more-1739"></span><br />
Di kepalanya serasa ada yang terus membisikkan tulisan Berger <em>The family now appears as an age-old evil. Heterosexual is rape; motherhood is slavery, all relation between the sexes are struggle of power. </em>(Keluarga sekarang nampak seperti setan tua. Hubungan seks pria wanita adalah perkosaan; peran keibuan adalah perbudakan; semua hubungan antarjenis kelamin adalah perjuangan untuk kekuasaan).</p>
<p>Maka, sukses suaminya dirasa menambah rasa superioritas dan penguasaan terhadap dirinya. Meski itu tidak <em>secuil</em> pun terbesit dalam pikiran suaminya.</p>
<p>Setelah cerai ia berharap akan bebas dari suami, bisa berkarir sendiri, dan tidak terikat di dalam rumah tangga. Tapi itu hanya harapan. Setelah cerai ternyata karirnya tidak sejaya mantan suaminya. Rumah tangga dan anak-anak masih di urusnya sendiri dan nyaris kehilangan perhatian. Di dunia kerjanya banyak masalah yang tidak mudah dihadapi.</p>
<p>Di dalam benaknya terdetik penyesalan “ternyata sendiri itu tidak nyaman”. Tanpa suami hidupnya terasa pincang. Benarlah <em>wisdom</em> dari Nabi: ”Sungguh miskin! wanita tanpa laki-laki. Sungguh miskin! laki-laki tanpa wanita”. Kalau saja Nancy pernah membaca <em>hadis</em> ini dia tentu akan mengumpat para feminis atau berpikir panjang untuk cerai. Asalkan dia tidak membaca hadis itu dengan hermeneutika.  <em> </em></p>
<p>Mimpi Nancy adalah <em>equality.</em> Itu adalah tuntutan zaman postmo yang sarat kepentingan sesaat dan selalu berubah-rubah. Mimpi Nancy adalah misi postmo, yakni<em> </em>membangun persamaan total.</p>
<p><em>Jargon</em>nya sayup-sayup seperti berbunyi “persamaan adalah keadilan”. Artinya kerja menyetarakan adalah kebaikan, dan membeda-bedakan adalah kejahatan. Sebab teori menyama-nyamakan adalah bawaan pluralisme dan relativisme. Dua doktrin penting yang berada pada <em>melting pot </em>postmodern.</p>
<p>Tapi penyamaan adalah utopia fatamorganis. Menjanjikan tapi tidak menjamin. Membela tapi untuk menguasai. Sebab para pakar di Barat yang sadar mengkritik misi ini.</p>
<p>Di tahun 1715-1747 Marquis De Vauvenargues sudah <em>wanti-wanti</em> “Alam tidak mengenal kesamaan; hukum, yang berlaku adalah <em>subordinasi</em> dan ketergantungan”. Hampir seabad kemudian James Anthony Fuller, (m. 1894) mengulangi pesan Marquis “<em>Man are made by nature unequal, it is vain, therefore to treat them as if they were equal”.</em></p>
<p>Fakta sosial juga menunjukkan  bahwa <em>in-equality</em> antara sesama laki-laki sekalipun bisa diterima. Apalagi antara laki-laki dan wanita. Fakta biologis menjelaskan strukur tubuh laki-laki dan perempuan berbeda dan membawa perbedaan psikologis. Karena itu Dr. Ratna Megawangi dengan tepat dan cerdas memberi judul bukunya <em>“Membiarkan Berbeda”.</em></p>
<p>Jika demikian apa berarti tuntutan <em>equality</em> tidak universal? Memang! Sebab kebebasan dan persamaan adalah bagian dari <em>America’s core culture</em> (Fukuyama).</p>
<p>Malahan, kata Ronald Inglehart dan Pippa Norris kesetaraan gender, kebebasan seks, perceraian, aborsi, dan hak-hak gay adalah ciri khas Barat. Maka benturan Islam–Barat adalah <em>Sexual clash of Civilization”, </em>tulisnya. Itulah, <em>equality </em>memang tidak universal.</p>
<p>Tapi mengapa kini tiba-tiba menjadi seperti universal? Sebab<em> equality</em> satu paket dengan Westernisasi, modernisasi dan globalisasi. Mulanya (abad 19 hingga awal abad 20) hanya sekedar menuntut kesamaan hak pilih, tapi kemudian (1960an-1980an) persamaan bidang hukum dan budaya. Periode selanjutnya (1990an) adalah evaluasi kegagalan gerakan pertama dan intensifikasi gerakan kedua.</p>
<p>Penyebarannya berbasis teori Foucault “untuk menjajah pemikiran kuasai wacana!”. Caranya, semua bangsa dan bahkan agama didorong untuk bicara gender. Yang menolak berarti <em>ndeso</em> alias kampungan. Strategi dan aplikasinya menjadikan kesetaraan gender sebagai neraca pembanguan di PBB. Pembangunan diukur dari peran wanita didalamnya dalam bentuk GDI (<em>Gender Development Index</em>).</p>
<p>Tapi benarkah peran wanita dapat menjadi neraca pembangunan?, Ternyata tidak.  di Negara-negara seperti Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat dan sebagainya<em> </em>telah ada <em>equality</em> dan <em>equal opportunity</em> dalam pendidikan dan pekerjaan. Tapi itu tidak juga mengangkat <em>share income</em> dalam keluarga.</p>
<p>Korelasi antara <em>equality</em> dan kemajuan pembangunan tidak terbukti. Prosentase anggota parlemen di AS misalnya hanya 10.3%, di Jepang 6.7%, di Singapura hanya 3.7%, sedangkan Indonesia 12.2%. Meski begitu Indonesia juga tidak lebih maju dari AS, Singapura dan Jepang, dalam semua bidang, khususnya pembangunan ekonomi.</p>
<p>Di Timur seperti Jepang, Taiwan, Indonesia, Pakistan, India, Saudi, Mesir dan sebagainya total <em>equality </em>tidak benar-benar dikehendaki wanita. Di negeri-negeri itu profesi ibu rumah tangga masih banyak diminati. Di Jepang antara wanita praktis tidak bekerja ketika menjadi istri dan mengurus keluarga. Tapi tidak ada pengaruh ekonomi yang signifikan terhadap Negara.</p>
<p>Lucunya, di negeri ini ulama, kyai dan cendekiawan Muslimnya tergiur untuk “mengimpor” paham kesetaraan ini. Mereka menjadi <em>pongah</em> lalu <em>melabrak</em> syariat. Fikih empat mazhab itu “dicaci” sebagai terlalu maskulin dan harus dirombak. Ayat-ayat gender ditafsirkan ulang demi <em>equality</em>. Yang <em>muhkamat </em>(pasti) diangggap <em>mutasyabihat </em>(ambigu)<em>.</em></p>
<p>Akhirnya, lahirlah konsep fikih berwawasan gender, lesbianisme dianggap <em>fitrah </em>dan perilaku homoseks dianggap amal saleh. Lucu! bak <em>shalawat</em> dilantunkan secara <em>rap</em> atau R&amp;B, atau bagaikan masjid dihias pohon natal.</p>
<p>Jika para pegiat feminisme, mendapat berbagai <em>awards</em> dari Barat tidak aneh. Semakin galak menista syariat semakin bertaburan <em>awards-</em>nya<em>.</em> Tapi ide penerima <em>awards</em> tidak berarti benar dan sebaliknya. Sebab dari penelitian Yayasan Ibu Harapan di 6 kota besar di Indonesia, gagasan fikih itu ditolak oleh 90% responden dari 500 muslimah.</p>
<p>Ide persamaan hak waris pun ditolak 91% responden. Bahkan mayoritas (97.4%) tidak sepakat dengan <em>ulah</em> Aminah Wadud menjadi Imam. Apalagi perilaku Irsyad Manji yang lesbi dan pendukungnya di negeri ini.</p>
<p>Masalahnya apakah tuntutan kesetaraan itu setingkat 50-50? Jika benar, apakah tuntutan hak juga perlu disamakan dengan pelaksanaan kewajiban, khususnya dalam agama?, Padahal dalam Islam ada hak-hak (<em>huquq</em>) dan kewajiban (<em>waajibat</em>). Jika kesetaraan penuh tidak mungkin, apa saja yang harus disamakan?.</p>
<p>Mungkin benar pepatah Latin kuno yang berbunyi <em>Omne Simile claudicate itaque de singulis verbis age </em>(Semua persamaan itu pincang, oleh karena itu jelaskanlah secara rinci). Dan sungguh benar firman Allah bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita meski tidak harus beda surga.</p>
<p><strong>Sourch : </strong>Hamid Fahmi Zarkasyi, <em>Misykat.</em></p>
<div id="crp_related"><h3>Baca Juga Artikel Ini:</h3><ul><li><a href="http://ismailonline.com/menyoal-cara-pandang-barat/" rel="bookmark" class="crp_title">Menyoal Cara Pandang Barat</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/catatan-untuk-buku-menusantarakan-islam/" rel="bookmark" class="crp_title">Catatan Untuk Buku “Menusantarakan Islam”</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/kunjungan-ke-brunei-darussalam-4/" rel="bookmark" class="crp_title">Kunjungan ke Brunei Darussalam (4)</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/pengusaha-besar-arab-saudi-osama-bin-laden/" rel="bookmark" class="crp_title">Wafatnya Pengusaha Besar Arab Saudi: Osama bin Laden</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/memaknai-kembali-hari-pahlawan/" rel="bookmark" class="crp_title">Memaknai Kembali Hari Pahlawan</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailonline.com/persamaan-equality/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyoal Cara Pandang Barat</title>
		<link>http://ismailonline.com/menyoal-cara-pandang-barat/</link>
		<comments>http://ismailonline.com/menyoal-cara-pandang-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2012 23:52:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailonline.com/?p=1734</guid>
		<description><![CDATA[Pandangan alam (worldview) memang islam selalu tidak sejalan dengan Pandangan alam (worldview) barat. Hal ini terjadi dalam setiap urusan, baik urusan duniawi maupun ukhrawi (meskipun orang barat tidak memiliki konsep ukhrawi akan tetapi mereka mempermasalahkannya). Salah satu contoh nyata yang seringkali dipermasalahkan oleh orang barat yaitu mereka tidak bisa menerima akan adanya konsep “najis”. Bagi mereka, najis adalah sesuatu yang di luar jangkauan pikir manusia, maka tidak bisa diterima dengan akal sehat. Sama halnya dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pandangan alam <em>(worldview)</em> memang islam selalu tidak sejalan dengan Pandangan alam <em>(worldview)</em> barat. Hal ini terjadi dalam setiap urusan, baik urusan duniawi maupun ukhrawi (meskipun orang barat tidak memiliki konsep ukhrawi akan tetapi mereka mempermasalahkannya). Salah satu contoh nyata yang seringkali dipermasalahkan oleh orang barat yaitu mereka tidak bisa menerima akan adanya konsep “najis”. Bagi mereka, najis adalah sesuatu yang di luar jangkauan pikir manusia, maka tidak bisa diterima dengan akal sehat. Sama halnya dalam masalah aurat atau masalah ibadah. Sebab, bagaimana mungkin dalam suatu wilayah yang panas, misalnya, masih diwajibkan menggunakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh (bagi wanita). Justu ini akan menyiksa diri sendiri. Ini menurut pandangan orang barat. Jika dipandang dengan <em>worldview</em> barat tentu saja akan tidak masuk akal.<br />
<span id="more-1734"></span><br />
Bukan hanya dalam masalah-masalah ibadah. Bahkan konsep-konsep sosial pun berbeda antara <em>worldview </em>barat dan islam. Sebagai contoh, konsep efisiensi yang hingga saat ini diajarkan di berbagai lembaga pendidikan adalah berasal dari pandangan alam orang barat. Definisi efisiensi adalah menggunakan sumber daya (manusia, uang, waktu, alam) seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. (Fuad Mas’ud, dosen fakultas ekonomika dan bisnis universitas diponegoro dalam makalahnya yang berjudul <em>Efficiency Reconsidered (Effisiensi Ditinjau Kembali)</em>.</p>
<p>Dilihat dari pengertiannya memang ini sangat menguntungkan jika diterapkan dalam dunia bisnis. Maksudnya, dengan memberlakukan konsep efisiensi pedagang bertujuan untuk mendapatkan laba yang sebesar-besarnya. Akan tetapi, dibalik keuntungan tersebut ada efek negatif yang ditimbulkan, yaitu merugikan orang lain dan inilah yang dinafikan oleh orang barat.</p>
<p>Memang dasarnya konsep barat selalu ingin menguntungkan diri sendiri. Begitu halnya dengan konsep efisiensi tadi, mereka berdagang demi meraup keuntungan tanpa memperdulikan dampak negatif yang akan dialami oleh orang lain. Pasalnya, pedagang hanya mengeluarkan sedikit modal tapi ingin untung besar, dengan menghalalkan berbagai macam cara. Halal atau haram tidak dijadikan ukuran dalam konsep efisiensi ini. Jadi sah-sah saja pedagang berlaku curang (asal tidak ketahuan orang) demi menghasilkan untung berlipat. Inilah jeleknya konsep barat. Agama tidak diberi ruang dalam segala kegiatan yang mereka lakukan.</p>
<p>Apa dampak negatif yang terjadi dibalik konsep efesiensi ini?. Secara tidak sadar, apabila konsep efisiensi ini diterapkan dalam amalan-amalan seperti bisnis maka yang terjadi sebenarnya adalah ia sedang mempraktekkan prinsip dikotomi atau prinsip sekularisme barat. Dalam kasus ini, pedagang sedang berupaya memisahkan dirinya dari agama, yang mana ia tidak lagi mementingkan dampak yang dirasakan oleh orang lain. Ia hanya peduli dengan nasib dirinya sendiri. Meskipun orang lain merugi, ia tetap bangga karena bisa untung besar.</p>
<p>Inilah salah satu kelemahan konsep barat jika ditinjau dengan <em>worldview</em> islam. Maka konsep efisiensi sangat tidak tepat jika diprektekkan oleh umat islam. Umat islam tetap harus memikirkan keuntungan dan kerugian yang akan ditimbulkan dari perbuatan yang ia lakukan, tidak terkecuali dalam berbisnis sekalipun. Pebisnis harus berpegang dengan cara pandang islam, bukan meminjam konsep-konsep barat demi untuk menjustifikasi keuntungan sepihak. Urusan sosial, bisnis misalnya, tidak bisa dipisahkan dari unsur-unsur ketuhanan (agama). Begitu pula dalam dunia pendidikan atau pun yang lainnya. unsur agama harus selalu dilibatkan dalam setiap aktifitas manusia.</p>
<p>Maka, benar apa yang disampaikan oleh Fuad Mas’ud bahwa konsep barat tidaklah tepat jika diterapkan dalam kehidupan umat islam. Sebab, umat islam memiliki cara pandang tersendiri dalam melihat sesuatu. Urusan agama dan kepentingan sosial harus selalu diintegrasikan</p>
<div id="crp_related"><h3>Baca Juga Artikel Ini:</h3><ul><li><a href="http://ismailonline.com/catatan-untuk-buku-menusantarakan-islam/" rel="bookmark" class="crp_title">Catatan Untuk Buku “Menusantarakan Islam”</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/spiritual-marketing-sudahkah-anda-memikirkannya/" rel="bookmark" class="crp_title">Spiritual Marketing, Sudahkah Anda Memikirkannya?</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/cyberspace-trend-ngeblog/" rel="bookmark" class="crp_title">Cyberspace, Trend ngeBlog</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/apa-yang-salah-di-tahun-baru-1433-hijriyah/" rel="bookmark" class="crp_title">Apa Yang Salah di Tahun Baru 1433 Hijriyah?</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/persamaan-equality/" rel="bookmark" class="crp_title">Persamaan (Equality)</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailonline.com/menyoal-cara-pandang-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengalaman Kuliah Perdana di ISID</title>
		<link>http://ismailonline.com/pengalaman-kuliah-perdana-di-isid/</link>
		<comments>http://ismailonline.com/pengalaman-kuliah-perdana-di-isid/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Apr 2012 14:51:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailonline.com/?p=1728</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini merupakan hari yang tidak akan terlupakan sepanjang hidup saya. Pasalnya, pada hari ini saya masuk kuliah S2 perdana. Bangku kuliah yang sangat diidam-idamkan oleh sebagian besar kalangan akademisi. Banyak mahasiswa yang ingin belajar dengan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, tapi kadang kala terhambat oleh biaya yang tidak sedikit. Biaya yang dibutuhkan pada sekolah yang lebih tinggi tentunya sesuai dengan tingkat ilmunya. Semakin tinggi pendidikan yang digapai, semakin tinggi pula biaya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini merupakan hari yang tidak akan terlupakan sepanjang hidup saya. Pasalnya, pada hari ini saya masuk kuliah S2 perdana. Bangku kuliah yang sangat diidam-idamkan oleh sebagian besar kalangan akademisi. Banyak mahasiswa yang ingin belajar dengan melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, tapi kadang kala terhambat oleh biaya yang tidak sedikit.</p>
<p>Biaya yang dibutuhkan pada sekolah yang lebih tinggi tentunya sesuai dengan tingkat ilmunya. Semakin tinggi pendidikan yang digapai, semakin tinggi pula biaya yang dibutuhkan. Dalam hal ini saya memiliki cerita tersendiri. Dan kemungkinan juga inilah yang diinginkan oleh sebagian besar para pelajar.<br />
<span id="more-1728"></span><br />
Beasiswa, itulah kata lain dari sekolah gratis. Alhamdulillah saya mendapatkan beasiswa S2 di ISID dengan mengambil program studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA). Ini bisa dikatakan rizki dari Allah yang patut disyukuri dan dimanfaatkan sebaik mungkin. Sebenarnya tidak ada hal yang istimewa dalam diri saya. Akan tetapi, Allah lebih tahu akan jalan yang harus ditempuh oleh hambanya.</p>
<p>Saya sendiri tidak pernah menyangka akan merasakan apa yang dulu hanya menjadi angan-angan saja. Mungkin ini adalah suatu bukti bahwa Allah ingin menunjukkan kepada saya jalan yang harus saya tempuh.  Karena keputusan sudah diketok dan proses belajar pun sudah dimulai, tinggal konsistensi dan sungguh-sungguh dalam belajar saja yang dibutuhkan. Ini sebagai bukti bahwa saya benar-benar layak mendapatkannya. Tentunya harus ditunjukkan juga dengan prestasi-prestasi yang membanggakan.</p>
<p>Meskipun saya tidak hanya belajar, tapi saya terus mencoba untuk menikmati kehidupan baru saya ini. Saya katakan sebagai kehidupan baru sebab, jika pada hari-hari sebelumnya saya berkemeja dan berdasi, kini saya bisa menanggalkan dasi dan bisa memakainya sewaktu-waktu. Sebelumnya memang saya berada di bagian publikasi ISID. Tapi tidak ada perubahan setelah saya memulai hari-hari saya dengan masuk kelas pascasarjana.</p>
<p>Saya masuk kuliah di pagi hari, siang harinya harus masuk kantor (meskipun tidak berpakaian rapi), sorenya harus siap-siap masuk kelas lagi menyesuaikan dengan jadwal dosen yang hanya bisa mengajar di sore hari. Setelah itu, waktu malam hari pun harus saya isi dengan kerjaan kantor yang masih menumpuk.</p>
<p>Meskipun padat dengan aktifitas, tapi saya selalu mencoba untuk menikmatinya. Lelah, jangan ditanya, itu sudah pasti. Dibalik kelelahan itulah sebenarnya proses pendewasaan pikiran dan jasad sedang digembleng. Jika sukses dalam proses maka bisa dipastikan kualitas pikiran pun akan meningkat.</p>
<p>Itulah sekelumit catatan harian yang dapat saya tulis. Bukan untuk menyombongkan diri. Saya hanya ingin mengukir sejarah diri saya pribadi melalui blog pribadi ini. Semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membaca. Aamin.</p>
<div id="crp_related"><h3>Baca Juga Artikel Ini:</h3><ul><li><a href="http://ismailonline.com/catatan-sebuah-kesyukuran-wisuda/" rel="bookmark" class="crp_title">Catatan Sebuah Kesyukuran Wisuda</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/kunjungan-ke-brunei-darussalam-5/" rel="bookmark" class="crp_title">Kunjungan ke Brunei Darussalam (5)</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/kunjungan-ke-brunei-darussalam-6/" rel="bookmark" class="crp_title">Kunjungan ke Brunei Darussalam (6)</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/kunjungan-ke-brunei-darussalam-3/" rel="bookmark" class="crp_title">Kunjungan ke Brunei Darussalam (3)</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/kunjungan-ke-brunei-darussalam-2/" rel="bookmark" class="crp_title">Kunjungan ke Brunei Darussalam (2)</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailonline.com/pengalaman-kuliah-perdana-di-isid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengikat Makna dari &#8216;Mengikat Makna Update&#8217;</title>
		<link>http://ismailonline.com/mengikat-makna-dari-mengikat-makna-update/</link>
		<comments>http://ismailonline.com/mengikat-makna-dari-mengikat-makna-update/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 12:55:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ismail</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Harian]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Tulis Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[membaca]]></category>
		<category><![CDATA[mengikat makna]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ismailonline.com/?p=1720</guid>
		<description><![CDATA[Entah mengapa hari ini begitu panas cuacanya. Tapi dalam cuaca yang panas itu ternyata keinginanku membaca buku pun ikut mulai memanas. Tanpa aku sadari bahwa hari ini adalah hari kedua setelah aku menulis sebuah artikel mengenai kasus arogansi geng motor. Artikel singkat tersebut sudah saya posting di tulisan sebelumnya. Jika anda belum membacanya, silahkan kunjungi link ini. Untuk memenuhi keinginanku membaca buku, tanpa berpikir panjang lebar aku pun langsung mengambil salah satu buku yang covernya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Entah mengapa hari ini begitu panas cuacanya. Tapi dalam cuaca yang panas itu ternyata keinginanku membaca buku pun ikut mulai memanas.</p>
<p>Tanpa aku sadari bahwa hari ini adalah hari kedua setelah aku menulis sebuah artikel mengenai kasus arogansi geng motor. Artikel singkat tersebut sudah saya posting di tulisan sebelumnya. Jika anda belum membacanya, silahkan kunjungi<a href="http://ismailonline.com/geng-motor-meneror-kemana-densus-88/" target="_blank"><strong> link ini.</strong></a><br />
<span id="more-1720"></span><br />
Untuk memenuhi keinginanku membaca buku, tanpa berpikir panjang lebar aku pun langsung mengambil salah satu buku yang covernya berwarna biru mencolok. Kebetulan sekali buku tersebut baru saya beli hasil nitip ke salah satu teman saya di Jogja. Tepat dua hari setelah penantian akhirnya buku tersebut bisa sampai ke tangan.</p>
<p>Sebenarnya judul buku tersebut sudah sangat familiar di kalangan penulis. Salah satu alasannya adalah buku tersebut sudah dicetak pada tahun 2009. Akan tetapi, berhubung saya baru tahu akan keberadaan buku tersebut, saya pun langsung terpikat. Keterpikatan saya terhadap buku itu bukan tanpa alasan. Saya berminat membelinya karena saya sudah bertemu langsung dengan penulisnya.</p>
<p>Hernowo Hasim, itulah nama penulis buku tersebut. Adapun judul buku yang saya maksud adalah <strong><em>“Mengikat Makna Update”.</em></strong> Ada tambahan kata <em>“update”</em> karena Bapak Hernowo telah menerbitkan buku itu sebelumnya pada tahun 2001 lalu. Saat itu judulnya hanya “Mengikat Makna” tanpa tambahan “Update”. Akan tetapi, perbedaan antara keduanya tidak terlalu jauh. Ada suplemen-suplemen tambahan yang sengaja diberikan oleh Bapak Hernowo dalam buku versi updatenya ini dengan harapan pembaca benar-benar mampu mengenali potensinya sebagai penulis. Tanpa peduli apapun latar belakang dia, ia wajib bisa menulis.</p>
<p>Setelah berkenalan dengan buku tersebut rasanya sangat sayang jika saya melewatkan satu lembar saja. Untuk itulah saya sengaja ingin menikmati proses mengikat makna melalui buku tersebut selembar demi selembar. Baca punya baca akhirnya saya mendapatkan informasi yang harus saya ikat dengan segera supaya saya dapat merasakan apa saja yang telah saya dapatkan setelah membaca pendahuluan buku <em>Mengikat Makna Update</em> tadi.</p>
<p>Dalam bukunya Bapak Hernowo menjelaskan proses pembuatan buku tersebut. Dengan gaya bahasa penyampaian yang khas, Bapak Hernowo menceritakan dengan serius bahwa pembuatan buku tersebut telah melalui proses yang sangat panjang. Termasuk proses berpikir akan adanya tipe pembuatan buku. Secara garis besar, pembuatan buku bisa dilakukan dengan cara: <em>Pertama,</em> Berasal dari kumpulan tulisan, <em>Kedua,</em> menggunakan sistem bab dan sub bab, dan <em>Ketiga,</em> menulis secara bercerita.</p>
<p>Secara umum ketiga model itulah yang seringkali dilakukan oleh para penulis. Baik penulis profesional maupun penulis buku pemula pasti tidak jauh dari ketiga sistem pembuatan buku tersebut.</p>
<p>Dalam hal ini, Buku <em>“Mengikat Makna Update”</em> merupakan buku yang disusun dengan sistem bercerita. Memang inilah ciri khas tulisan-tulisan Bapak Hernowo. Beliau banyak menceritakan tentang proses mengikat makna yang terjadi dalam dirinya akan tetapi cerita tersebut bisa dinikmati oleh orang lain. Sebab, beliau memiliki banyak kosa kata yang diolah secara profesional sehingga mampu membentuk kalimat-kalimat yang mengandung makna.</p>
<p>Sebagaimana buku-buku lainnya, melalui buku “Mengikat Makna Update” ini penulis ingin menyampaikan pesan-pesannya bahwa menulis itu memerlukan membaca dan membaca sangat memerlukan menulis. Inilah sebenarnya proses mengikat makna.</p>
<blockquote><p><em>“Anda tidak akan pernah bisa menulis secara bagus jika tidak pernah membaca. Begitu pula sebaliknya, bacaan anda tidak akan pernah menghasilkan makna berkualitas yang bisa diingat dan dicerna apabila anda tidak menuliskannya”.</em></p></blockquote>
<p>Mungkin pesan itulah yang ingin disampaikan Bapak Hernowo melalui bukunya ini. Mengikat makna merupakan kegiatan personal yang terjadi di dalam ruang privat yaitu dalam diri pembaca sendiri. Proses mengikat makna ini sangat bagus digunakan untuk melatih kreatifitas menulis. Sebab pada dasarnya menulis adalah upaya melatih kekreatifan. Dalam segi ini pembaca diuntungkan. Pada proses mengikat makna ia tidak dipengaruhi oleh orang lain yang bisa saja mengacaukan makna yang akan atau sedang ia ikat. Untuk itu perlu adanya keinginan dan kejujuran yang tinggi akan upaya mengikat makna yang harus dilakukan secara personal.</p>
<p>Supaya aktifitas mengikat makna bisa berbuah matang dan siap dipetik, perlu ada yang namanya kontinuitas dan konsistensi. Yang dimaksud dengan kontinuitas yaitu melakukan aktifitas (membaca dan menuliskan apa yang dibaca) secara terus menerus. Tidak ada alasan apapun untuk berhenti mengikat makna. Sekecil apapun hal yang didapati dari membaca harus segera ditulis sesegera mungkin. Sebab dengan melakukannya terus menerus inilah kemampuan akan terasah dan akan memunculkan ide-ide orisinil yang baru. Tapi, kontinuitas saja belum cukup. Perlu juga yang namanya konsistensi. Dalam bahasa islamnya <em>“istiqamah”, </em>yaitu tiada hari tanpa melakukan aktifitas membaca kemudian mengikatnya dengan sebuah susunan kata-kata yaitu tulisan.</p>
<p>Jadi intinya, ada empat pondasi penting yang wajib diingat oleh calon penulis yaitu:</p>
<ol>
<li>Memadukan membaca dan menulis</li>
<li>Melibatkan diri pribadi yang paling dalam</li>
<li>Memerlukan kontinuitas dan konsistensi</li>
</ol>
<p>Ada tips tambahan yang ingin saya bagikan kepada anda yang membaca artikel ini sampai paragraf akhir. Pesan pribadinya yaitu:</p>
<blockquote><p><em>“Menulislah dengan menggunakan kata ganti pertama, <strong>“aku”</strong> atau <strong>“saya”.</strong> Gunakan kata ganti pertama ini untuk memanggil bahan/informasi yang ada dalam pikiran. Ini berguna untuk mengevaluasi diri. Dengan menggunakan kata ganti pertama maka anda akan tahu sejauh mana kualitas informasi yang anda miliki sebenarnya”.</em></p></blockquote>
<p>Tanpa terasa saya sudah mengikat makna dari buku yang saya baca hari ni, <em>“Mengikat Makna Update”</em> karya Hernowo Hasim (meskipun belum selesai membaca). Melalui artikel ini saya ingin mengikrarkan diri saya untuk selalu mempraktekkan Mengikat Makna dengan harapan segala informasi yang saya dapat bisa saya daur ulang menjadi karya pribadi yang spektakuler. Aamin.</p>
<div id="crp_related"><h3>Baca Juga Artikel Ini:</h3><ul><li><a href="http://ismailonline.com/untuk-apa-menulis/" rel="bookmark" class="crp_title">Untuk Apa Menulis?</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/banyak-membaca-sumber-kualitas-tulisan/" rel="bookmark" class="crp_title">Banyak Membaca Sumber Kualitas Tulisan</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/rutin-menulis-untuk-kualitas-konten-blog/" rel="bookmark" class="crp_title">Rutin Menulis Untuk Kualitas Konten Blog</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/menumbuhkan-gairah-membaca-dan-menulis/" rel="bookmark" class="crp_title">Menumbuhkan Gairah Membaca dan Menulis</a></li><li><a href="http://ismailonline.com/anda-pun-bakat-menulis-shob/" rel="bookmark" class="crp_title">Anda Pun Bakat Menulis Shob !</a></li></ul></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ismailonline.com/mengikat-makna-dari-mengikat-makna-update/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

