Catatan Untuk Buku “Menusantarakan Islam”

“Islam yang ada di Indonesia saat ini adalah agama impor dari islam Arab”. Begitulah kurang lebih salah satu argumen Dr.Aksin Wijaya dalam acara bedah bukunya “Menusantarakan Islam”. Acara yang diadakan oleh fakultas ushuluddin STAIN Ponorogo ini terlihat ramai dengan datangnya beberapa mahasiswa fakultas ushuluddin dari kampus-kampus lain.

Acara bedah berlangsung dengan baik. Akan tetapi, substansi dari isi buku yang dikarang oleh Aksin Wijaya sepertinya kurang baik dan kurang layak untuk dijadikan rujukan mengenai sejarah masuknya islam ke Indonesia. Di mana letak kekurangannya?, mungkin itu akan terjawab dari beberapa catatan ringan saya berikut ini.

Seperti kebanyakan orang liberal lainnya, islam dianggap sebagai agama budaya. Yang mana, islam dieratkan dengan kebudayaan arab. Sehingga, islam tidak lagi murni sebagai agama wahyu sebagaimana yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad. Islam disebut-sebut sebagai agama buatan manusia. Inilah salah satu poin penting yang ingin disampaikan dalam bukunya Aksin Wijaya.

Aksin ingin menjadikan islam sebagai akar dari segala permasalahan yang dia lihat di Indonesia. Mungkin, karena merasa sedikit risau dengan sedikitnya kekerasan, akhirnya ia menjustifikasi bahwa agama islam adalah agama yang suka akan kekerasan. Dengan begitu piciknya melihat islam dari personal-personal pemeluknya.

Muslim arab dipaksa untuk beda dengan muslim Indonesia. Akhirnya yang terjadi adalah bukan lagi muslim arab atau muslim Indonesia melainkan islam arab dan islam Indonesia. Kata Muslim dan islam dari segi makna saja sudah tentu berbeda dan tidak akan bisa jika yang satu merepresentasikan yang lainnya.

Secara konteks saja, sebenarnya sudah rancu. Aksin dengan sengaja mengotak-kotakkan islam supaya lebih muda untuk disusupi paham-paham yang ia impor juga dari barat. Ia dengan enaknya membagi islam menjadi berbagai macam. Islam sufistik, islam nusantara, islam arab dll. Adalah islam yang ingin ditampilkan olehnya.

Islam arab yang dikatakan identik dengan kekerasan ia jadikan kambing hitam. Bukan hanya itu, lebih jauh ia mengatakan bahwa pondok pesantren merupakan tempat persemaian islam arab. Dari argumen ini dapat dilihat bahwa Aksin ingin membenturkan antara islam yang dibawa oleh para ulama timur tengah dengan islam yang ada di Indonesia. Dengan menampilkan dua kubu yang berbeda inilah Aksin ingin menilai bahwa islam arab dan islam Indonesia itu benar-benar ada meskipun pada hakekatnya islam hanyalah satu yaitu Islam (tanpa embel-embel apapun).

Bukan hanya itu, lebih jauh lagi, Aksin ingin memisahkan islam dan berbagai macam persoalan-persoalan politik, ekonomi dll. Ia melihat bahwa politik dan islam adalah dua kubu yang bertentangan dan tidak bisa disatukan. Entah disadari atau tidak, ia sebenarnya sedang melakukan dikotomi terhadap ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu sosial. Ia menganggap seakan-akan ilmu kepolitikan, perekonomian bukanlah dari Allah melainkan ciptaan manusia. Mungkin ia lupa akan adanya sejarah Rasulullah yang juga menertibkan dunia ekonomi dan politik yang sesuai dengan nilai-nilai agama islam.

Sayangnya, dari awal hingga akhir bedah buku, Aksin tetap bersikukuh bahwa ilmu sosial dan ilmu agama tidak akan bisa dipertemukan. Keyakinanya hanya berlandaskan pada fakta yang terjadi di Indonesia. Lagi-lagi, ia tidak mengkaji substansi keilmuan lebih mendalam akan tetapi ia melihat fakta yang ada di lapangan sebagai data pendukung bahwa ilmu sosial adalah seperti apa yang sedang terjadi. Dan itu semua tidak ada kaitannya dengan Allah.

Saya sengaja tidak menjabarkan lebih detail. Sebab semua pandangan Dr. Aksin saya anggap tidak sesuai dan kurang tepat jika diterapkan dalam agama islam. Dari isi buku tersebut saya akhirnya tahu bahwa paham-paham yang ia sebarkan tidak lain hanyalah mengekor dari dogma-dogma barat yang sebenarnya sudah usang dan tidak layak pakai lagi. Terlepas dari ia mengakuinya atau tidak, yang jelas isi buku tersebut sungguh memalukan bagi seorang doktor muslim. Ketidakjujuran dalam bidang keilmuan sepertinya sudah mendarah daging dalam dirinya. Semoga kita tidak terpengaruh olehnya.

About the Author:

2 Comments

  1. Buku yang mengandung unsur SARA seperti karya dari Dr. Aksin semestinya tidak dipublikasikan agar tidak membuat kesenjangan dan menimbulkan kemarahan bagi kita

  2. Rohim

    dengan banyaknya buku-buku bisa memberikan banyak sudut pandang…
    dan efeknya tergantung pada pembaca. karena negara yang damai itu bukan tanpa ada kerusuhan, tapi ada dan bisa dikendalikan.